12.15.2006

Tangerang - Bekasi

Jum'at kemaren giliran gw yang patroli di Argopantes Tangerang. Gw berangkat dari Bekasi naik bis, soalnya kalo pake motor capek lah .. Jadi saya berangkat ke dari rumah ke Bekasi Timur, motor gw titip trus naik bis Arimbi yang ke arah Tangerang. Sampai di Argopantes Tangerang Pukul 10.30, maklum lah kena macet. Jakarta kan sekarang macet di mana-mana, tol juga macet.

Begitu sampai kantor, gw dah dihadang dengan berbagai masalah yang harus segera di selesaikan. Dari masalah program sampai masalah network, bahkan masalah yang semestinya di handle sama IT Argopantes puh akhirnya di delegasikan ke Gw. Wal hasil beres semua, jam 5 Gw pulang naik bis jemputan AP dari Tangerang ke kantor pusat. Wush.. sopirnya tancap gas, and ngebut .. tapi gitu nyampai di Puri mulai deh jalan semeter semeter ..why... coz macet.. bok. Wah bt banget, dah macet hujan pulak ..

Semua kaca bis ditutup, mulai tambah pengap deh, maklum bisnya gak ada ac-nya. Penumpangnya pun mulai kelabakan, bahkan ada yang buka baju bagian atas, sambil kipas2. Hmm.. untung gw dah pake minyak kayu putih tadi pagi' ucap bambang, sambil buka baju. Grrrrr... Penumpang bagian belakang pun, yang sebagian cowok, pada ketawa ngakak. Hahaha.. ada-ada aja. Bagian tengah tidak mau ketinggalan, Butet mulai berdiri dan goyang dombret sambil nyanyi-nyanyi. Hmm .. sepertinya penumpang bis udah mulai stress menghadapi macetnya ibu kota.

Pelan namun pasti, akhirnya nyampai di kantor jam 7.30. Lumayan lah nggak terlalu lama, akhirnya begitu nyampai kantor, aku turun dan berteduh sebentar.. trus jalan lagi ke halte bis nunggu bis yang ke jurusan bekasi timur. Lancar bokk.. nyampai rumah jam 10.15. Huh... lumayan juga traveling today.

4.06.2005

Error: "An error occurred when trying to connect to topology service. Make sure it is properly installed." when opening the Symantec System Center

Error: "An error occurred when trying to connect to topology service. Make sure it is properly installed." when opening the Symantec System Center

3.29.2005

/etc/samba/smb.conf

# File share amgfile
# created 02.03.3004
# wahyu.triono@onehub.net

[global]
workgroup = argopantestbk
netbios name = amgfile
# comment = amgfile
log level = 2
security = domain
password server = *
encrypt passwords = yes
wins support = no
domain master = no
preferred master = no
domain logons = no
dns proxy = no
wins server = 109.128.5.8
nt acl support = true
fstype = ntfs
oplocks = no
level2 oplocks = no
lock directory = /var/lock
guest account = nobody

winbind separator = +
winbind uid = 10000-20000
winbind gid = 10000-20000
winbind enum users = yes
winbind enum groups = yes
winbind use default domain = yes

[home]
path = /share/amgfile/home/%U
browseable = yes
comment = %U
guest ok = yes
public = yes
force create mode = 0777
force directory mode = 0777
valid users = @"Domain Users"
write list = @"Domain Users"

[share$]
path = /share
browseable = yes
guest ok = yes
public = yes
writeable = yes
force create mode = 0777
force directory mode = 0777
admin users = onehub @"Domain admins"
valid users = onehub @"Domain admins"

10.28.2004

Nagasasra sabuk inten 13

GADIS itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Matanya yang bulat, nampak mengambang air mata yang ditahan sekuat-kuatnya.

Tak ada jalan buat kembali, ujarnya lirih.

Dalam kata-kata itu, ternyata bahwa ada sesuatu rahasia yang menyelubungi diri gadis itu.
Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang diri gadis itu, yang sampai saat itu masih belum dikenal namanya.

Siapakah sebenarnya kau ini? Serta apakah hubunganmu dengan Ki Ageng Pandan Alas? tanya Mahesa Jenar kemudian.

Gadis itu mengangkat mukanya sedikit. Lalu jawabnya, Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak mengenal siapakah Ki Ageng Pandan Alas itu. Kalau aku memiliki keris yang tuan hubungkan dengan nama Pandan Alas, adalah diluar pengetahuanku. Aku menerima keris itu dari almarhum ibuku, sedangkan ibu menerimanya dari kakek. Seorang petani miskin yang sedang merantau mencari daerah baru, dan sekarang menurut almarhum ibuku, kakek itu tinggal di daerah Pliridan. Dan sama sekali tak bernama Pandan Alas, tetapi bernama Ki Santanu, sedangkan aku sendiri dinamai oleh ayahku, Rara Wilis.

Mahesa Jenar mendengarkan jawaban gadis yang bernama Rara Wilis itu dengan seksama.

Pengakuannya, bahwa ia sama sekali tak mengenal Ki Ageng Pandan Alas semakin menarik perhatian Mahesa Jenar. Mendadak berkilatlah dalam hatinya, suatu keinginan untuk mengetahui rahasia yang menyelubungi gadis itu. Sehingga berkatalah Mahesa Jenar,

Bapak-bapak para pengawal, serta saudara-saudara seperjalanan. Barangkali aku mempunyai suatu cara yang dapat memenuhi kehendak kalian. Sebaiknya kalian kembali dengan para pengawal, mungkin tak akan banyak menemui halangan, sedangkan gadis ini, yang berkeras hendak melanjutkan perjalanan dan menemui kakeknya, biarlah aku antarkan saja. Sebab perjalanan ke Pliridan bukanlah suatu pekerjaan yang ringan.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu melonjaklah kegirangan di hati Rara Wilis.

Tiba-tiba matanya yang berkaca-kaca itu jadi berkilat-kilat. Tetapi sebentar kemudian kembali perasaan kegadisannya menguasai dirinya, sehingga wajahnya jadi kemerah-merahan, serta kembali ia menundukkan mukanya.

Mahesa Jenar pun menangkap perubahan wajah Rara Wilis. Dan tidak disadarinya hatinya pun bergoncang. Sebaliknya beberapa orang lain menjadi kecewa mendengar keputusan Mahesa Jenar untuk tidak menyertai mereka kembali. Sebab bersama sama dengan Mahesa Jenar, mereka semua merasa bahwa keamanan mereka terjamin.

Sementara itu kembali Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, serta memberi petunjuk mengenai beberapa kemungkinan. Sehingga akhirnya terdapat suatu keputusan, bahwa mereka semuanya akan kembali dengan para pengawal, sedangkan Mahesa Jenar sendiri akan mengantar Rara Wilis sampai ke Pliridan.

Demikianlah pada malam itu hampir tak seorang pun dapat tidur, kecuali beberapa orang, karena lelah lahir dan batin, seakan-akan terlena sambil bersandar di pokok pepohonan. Berbeda dengan siang tadi, dimana hari seakan-akan berlari demikian cepatnya, malam itu rasa-rasanya tak bergerak. Suara binatang malam, serta desiran angin rimba terasa sangat menjemukan dan menakutkan. Mereka semua mengharap agar malam lekas berakhir. Sehingga cepat-cepat mereka dapat pergi meninggalkan tempat yang mengerikan itu.


Baru setelah mereka mengalami kejemuan yang luar biasa, terdengar ayam rimba berkokok bersahut-sahutan. Dari celah-celah kelebatan dedaunan hutan, tampaklah membayang warna merah di langit. Segera orang-orang itu semua mengatur barang-barangnya dan menyiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang berlawanan dengan yang ditempuhnya kemarin, kecuali Rara Wilis yang setelah menerima kembali kerisnya akan melanjutkan perjalanannya ke Pliridan, diantar oleh Mahesa Jenar sendiri.

Maka setelah semuanya bersiap, serta setelah para pengawal dan mereka yang mengadakan perjalanan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada Mahesa Jenar, mulailah mereka berangkat kembali. Di depan sendiri berjalan pengawal tua itu dengan senjata di tangan. Baru setelah rombongan itu lenyap dibalik pepohonan, Rara Wilis beserta Mahesa Jenar pun berangkat melanjutkan perjalanan ke barat, ke daerah Pliridan.


Di perjalanan, tidak banyak yang mereka percakapkan, kecuali apabila Mahesa Jenar memandang perlu untuk memberitahukan tempat-tempat berbahaya atau binatang binatang berbisa.

Tetapi perjalanan Mahesa Jenar sekarang bertambah laju, karena tidak harus bersama-sama dengan rombongan yang besar. Sekali dua kali Mahesa Jenar pun harus berlaku seperti pemimpin rombongan pengawal, menuntun bahkan menggendong Rara Wilis apabila jalan sangat sulit, meskipun keduanya agak segan-segan. Tetapi terpaksalah hal itu dilakukan. Sebab memang sekali dua kali mereka menjumpai rintangan yang berat.

Demikianlah mereka berjalan terus seakan-akan tak mengenal lelah. Bagi Rara Wilis, perjalanan ini, meskipun melewati daerah hutan yang tak kalah liarnya dengan yang ditempuh kemarin, tetapi rasanya tidak begitu berat. Bahkan setelah lebih dari setengah hari ia berjalan, sama-sekali tak terasa lelah olehnya, haus ataupun lapar.

Perjalanan yang begitu sulit itu bagaikan sebuah tamasya, diantara kehijauan ladang serta keindahan taman. Gemerisik daun kering yang dilemparkan oleh angin, terdengar merdu. Rara Wilis sendiri tidak begitu menyadari, kenapa hatinya menjadi sedemikian bening dan cerah.

Tidak banyak hal yang mereka temui di perjalanan. Ketika malam datang, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Setelah rumput-rumput liar di bawah pohon itu dibersihkan, segera Rara Wilis merentangkan tikarnya, sedangkan Mahesa Jenar mengumpulkan kayu dan kemudian menyalakan api.

Malam itu pun dilampauinya dengan tak ada sesuatu yang terjadi. Pagi-pagi setelah mereka mempersiapkan diri, segera perjalanan pun dilanjutkan.

Perjalanan itu masih harus melampaui satu malam lagi. Maka pada hari ketiga itu, Rara Wilis serta Mahesa Jenar menempuh perjalanan yang terakhir untuk mencapai daerah Pliridan.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
062

MATAHARI telah miring ke barat, hutan Tambakbaya semakin lama semakin bertambah tipis. Pepohonan tidak lagi selebat dan liar seperti daerah pedalaman. Sementara itu terasa debaran jantung yang aneh dalam dada Rara Wilis. Telah lebih sepuluh tahun ia tak berjumpa dengan kakeknya. Sekarang, ia ingin mencarinya di daerah yang tak dikenalnya.


Sebentar kemudian mereka telah sampai pada perbatasan hutan. Di depan mereka tinggallah beberapa grumbul kecil yang tidak begitu berarti.

“Inilah daerah Pliridan,” gumam Mahesa Jenar hampir kepada dirinya sendiri.
Mendengar ucapan Mahesa Jenar, Rara Wilis yang berjalan di depan jadi terhenti. Beberapa macam perasaan bercampur aduk di otaknya. Sekali ia menarik nafas panjang. Alangkah lega hatinya setelah hutan yang lebat itu dapat dilewatinya.
Tetapi sementara itu lalu kemana ia mesti pergi?

Sekali dua kali ia menoleh kepada Mahesa Jenar. Wajahnya yang cerah itu menjadi agak suram oleh kebimbangan hatinya. Mahesa Jenar dapat menangkap perasaan Rara Wilis.

“Rara Wilis, dapatkah kau menunjukkan di daerah manakah kira-kira kakekmu tinggal?” tanya Mahesa Jenar. Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Memang ia sama sekali tak mengerti arah tempat tinggal kakeknya. Ia hanya mendengar, bahwa kakek itu tinggal di daerah Pliridan.

Mahesa Jenar juga menjadi agak bimbang. Ia beberapa tahun yang lalu pernah mengenal daerah ini. Tetapi apa yang dilihatnya sekarang, ternyata mengalami banyak perubahan.

“Tuan,” kata Rara Wilis dengan penuh keragu-raguan, “Aku sama sekali tidak membayangkan kalau demikianlah keadaan daerah Pliridan. Menurut gambaran angan-anganku. Pliridan adalah sebuah desa yang dilingkungi oleh persawahan dan ladang. Tetapi ternyata daerah ini hanyalah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul-gerumbul liar.”

“Tetapi aku kira tidaklah demikian seluruhnya, Rara Wilis. Beberapa tahun yang lalu, desa-desa seperti yang kau bayangkan itu memang pernah ada. Entahlah kenapa sekarang keadaan itu berubah. Meskipun demikian aku yakin, bahwa di sekitar daerah ini masih juga didiami orang. Karena itu baiklah kita coba mencarinya.”

Di wajah Rara Wilis masih saja membayang kebimbangan hatinya, bahkan kebimbangan itu kemudian berubah menjadi suatu ketakutan. Bagaimanakah kalau ia tak dapat menemui kakeknya? Pastilah, bahwa Mahesa Jenar tak akan dapat terus-menerus menemaninya. Melihat perubahan wajah Rara Wilis, Mahesa Jenar pun menangkap perasaannya, karena itu ia mencoba menghiburnya.

“Rara Wilis, tak usah kau merasa takut. Aku masih mempunyai perasaan kuat, bahwa di sini masih didiami orang. Seandainya tidak demikian, maka aku bersedia mengantar kau pulang ke rumah ayahmu.”

Tetapi akibat perkataan itu adalah sebaliknya dari yang diharapkan. Karenanya Mahesa Jenar menjadi terkejut sekali ketika dilihatnya Rara Wilis malahan meneteskan air mata. Meskipun sudah ditahan sekuat-kuatnya.


Sekarang Mahesa Jenar yang kebingungan. Sekali lagi ia merasa demikian tumpulnya perasaannya. Ia pernah mengalami suasana yang bersamaan, meskipun keadaannya berbeda. Yaitu pada waktu ia berhadapan dengan Nyai Wirasaba. Pada saat itu juga ia menjadi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dikerjakan.


Sekarang Rara Wilis itu pun menangis di hadapannya tanpa sebab. Justru pada saat ia berusaha untuk menghiburnya. Karena itu perasaannya menjadi tidak enak sekali.

Tetapi setelah ia mempunyai sebuah pengalaman yang tak menyenangkan, ia tidak lagi mau menebak-nebak. Maka terlintaslah dalam pikirannya, bahwa jalan yang terbaik adalah menanyakan sebabnya, kenapa Rara Wilis menangis. Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi agak lega sedikit. Dan dengan hati-hati sekali ia mencoba bertanya.

“Rara Wilis, aku telah mencoba untuk menenangkan hatimu, tetapi justru akibatnya adalah sebaliknya. Karena itu, dapatkah aku menanyakan, apakah sebabnya kau menangis?”

Rara Wilis tidak segera menjawab. Ia melangkah beberapa kali ke samping, dan kemudian menjatuhkan dirinya duduk di rumput-rumput liar. Dari matanya masih saja terurai tetesan-tetesan airmata. Baru setelah beberapa saat, ia menjawab dengan kata-kata yang tersekat-sekat.

“Tuan, aku merasa bersyukur, bahwa aku dapat berjumpa dengan seorang yang demikian baik hati seperti Tuan. Karena itu tak adalah jalan bagiku untuk menyatakan terima kasihku yang tak terhingga. Tetapi sangatlah menyesal Tuan ..., bahwa kalau aku tak dapat menemukan kakekku, aku tak dapat kembali kepada ayahku. Meskipun ayahku dahulu tergolong orang yang berada, tetapi tak adalah tempat bagiku di sana.”

Mahesa Jenar menjadi semakin menebak-nebak tentang keadaan gadis aneh itu. Rupanya banyak rahasia yang menyelubungi dirinya, sehingga ia terpaksa menempuh perjalanan yang sedemikian berbahayanya.

“Rara Wilis,” tanya Mahesa Jenar kemudian, “aku bukanlah ingin terlalu banyak mengetahui tentang dirimu, tetapi bagiku kau adalah seorang gadis yang diselubungi oleh kabut rahasia yang kelam.”

“Mungkin Tuan benar,” jawab Rara Wilis, “Tetapi buat tuan tidaklah sepantasnya kalau aku menyembunyikan sesuatu rahasia.”


Mata Rara Wilis yang bulat tetapi sayu itu memandang Mahesa Jenar, seperti mata kanak-kanak yang minta perlindungan. Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Di luar kesadarannya ia pun ikut serta duduk diatas rumput-rumput liar.

Setelah diam sejenak, Rara Wilis memulai ceritanya. “Tuan, ayahku adalah seorang yang banyak mempunyai pengaruh di daerah Pegunungan Kidul. Meskipun daerah itu tandus dan kering, tetapi ayahku mempunyai peternakan yang cukup, sehingga dapatlah ia digolongkan orang berada. Tetapi ibuku adalah keturunan orang yang miskin. Kakekku semasa masih tinggal di Pegunungan Kidul, tidaklah lebih dari seorang buruh yang bekerja dengan upah yang sangat kecil. Meskipun demikian kakek termasuk orang yang tidak mau menjadi beban orang lain. Sepuluh tahun yang lalu kakek yang merasa kehidupannya semakin hari semakin sulit, terpaksa pergi meninggalkan kampung halaman. Memang sebelum itupun kakek adalah seorang perantau. Mungkin ini disebabkan oleh kehidupannya yang sulit, sehingga pada saat-saat tertentu, yaitu pada saat paceklik, kakek pergi meninggalkan kampung untuk beberapa bulan. Tetapi sejak 10 tahun yang lalu, kakek tidak kembali pulang.”




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
063

RARA WILIS pun bercerita bahwa pada masa kanak-kanak, "apabila kakek berada di rumah, selalu digendongnya kemana ia pergi. Kepergiannya tidak terlalu lama mempengaruhi perasaanku. Sebab ayah dan ibuku selalu memanjakan aku. Tetapi akhir-akhir ini terjadilah peristiwa-peristiwa yang merusak kehidupan damai itu. Beberapa tahun yang lalu, di kampung halamanku, datanglah seorang perempuan dari Bagelen. Kelakuannya tidaklah seperti lazimnya perempuan-perempuan di daerah kami. Di daerah kami banyak pendekar yang ternama, termasuk ayahku yang bernama Ki Panutan. Tetapi tidaklah biasa seorang perempuan jadi pendekar. Berbeda halnya dengan perempuan pendatang itu. Ternyata ia adalah seorang pendekar perempuan, yang tidak diduga-duga. Ia pun telah dapat mengalahkan beberapa pendekar ternama di daerah kami."

Rara Wilis berhenti sejenak. Alisnya tampak berkerut. Ia mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah berlaku.

"Tuan ...," sambungnya beberapa saat kemudian. "Keanehan perempuan itu tidak saja pada kependekarannya, tetapi juga pada tingkah lakunya. Kadang-kadang ia bersikap garang dan kasar seperti halnya pendekar laki-laki di daerah kami. Tetapi kadang-kadang ia menjadi lunak dan mesra, penuh sifat halus seorang wanita."

Rara Wilis kembali berhenti bercerita sejenak.

"Rupanya gabungan dari kedua sifat-sifat itulah yang telah memecahkan kebahagiaan rumah-tangga kami. Sebab ternyata hubungan perempuan itu dengan ayahku semakin hari semakin rapat. Ibuku adalah perempuan lugu, yang hanya dapat bekerja di dapur dan meladeni seorang suami seperti apa yang dilakukan perempuan-perempuan lain di desa kami. Ibuku tidaklah dapat memberi saran, nasihat atau apapun semacam itu kepada ayahku sebagai seorang pendekar. Juga ibuku tidak pandai merayu hati laki-laki. Dan karena itulah maka semakin dekat ayahku dengan perempuan pendatang itu, semakin jauh ia dari ibuku. Rupanya hal itu dapat dilihat oleh penduduk di daerah kami, sehingga menimbulkan suasana yang kurang menyenangkan. Tetapi lebih daripada itu, ayah pun perangainya seakan-akan berubah. Ia pun kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan aneh. Minum minuman keras dan hal-hal kasar lainnya. Kepadaku pun ayah menjadi semakin jauh pula."

Lagi-lagi Rara Wilis berhenti sejenak. "Alangkah benciku kepada perempuan itu, seperti ia juga sangat benci kepadaku. Bahkan ia selalu menyakitiku tanpa ada pembelaan dari ayah, apalagi ibu yang hanya dapat memelukku dan menangisi. Waktu itu, tak banyak yang dapat aku ketahui, selain pada suatu hari datanglah beberapa orang pendekar terkenal, yang dulu adalah sahabat-sahabat ayahku. Tanpa kuketahui sebab-sebabnya, mereka bertempur melawan ayahku serta perempuan pendatang itu. Rupanya ayahku memang seorang pendekar pilihan dan perempuan itu pun tak kalah garangnya. Sehingga meskipun ayah dan perempuan itu dikerubut, tetapi dapat juga memberi perlawanan yang berarti. Ibuku sendiri waktu itu tak dapat berbuat lain, kecuali memelukku dan menangis sejadi-jadinya di belakang dapur rumah kami. "

"Akhirnya ...," lanjut Rara Wilis, "bagaimanapun kuatnya ayahku serta perempuan pendatang itu, namun tidaklah dapat menahan arus kemarahan pendekar-pendekar ternama di dareh kami yang demikian banyak jumlahnya. Sehingga sejak itu, ayahku pergi dengan perempuan pendatang itu, dan tidak pernah kembali. Sejak itu pula ibu selalu menanggung kesedihan yang tak terhingga, meskipun anehnya, tetangga-tetangga bersikap baik sekali. Bahkan para pendekar yang mengerubut ayahku, bersikap manis sekali kepada ibuku. Bahkan istri-istri mereka selalu berusaha untuk dapat bercakap-cakap dan menghibur ibuku. Tetapi rupanya ibuku lebih suka mengurung dirinya serta membenamkan diri dalam duka." Kata Rara Wilis, "beberapa tahun kemudian membayanglah puncak kesedihan yang bakal terjadi. Ibuku sakit. Semakin lama sakit itu semakin keras dan seolah-olah sudah terasa, bahwa sakit itu tak akan dapat diobati. Ternak kami yang sekian banyaknya, kekayaan kami, tidak dapat membendung arus kematian yang semakin lama semakin deras bergulung-gulung menghantam tebing-tebing kehidupan ibuku.
Maka setelah beberapa tahun kemudian dari kepergian ayahku, ibuku menutup mata, serta meninggalkan keris yang Tuan namakan Sigar Penjalin itu kepadaku, sebagai suatu bukti bahwa aku adalah keturunan Ki Santanu dari Pegunungan Kidul. Jadi sama sekali bukan Ki Ageng Pandan Alas dari Wanasaba. Maka akupun akhirnya merasa, bahwa aku tidak dapat hidup tanpa ada satu pun yang aku cintai. Meskipun aku mendapat warisan yang cukup banyak, tetapi semuanya itu tak berarti bagi hidupku yang kering."

Rara Wilis mengakhiri ceriteranya dengan sedu-sedan yang seperti meledak dari rongga dadanya.

Mahesa Jenar mendengarkan ceritera Rara Wilis itu dengan penuh haru. Rupanya kegersangan hati gadis itulah yang mendorongnya untuk menempuh jalan yang sangat berbahaya, mencari kakeknya, sekadar untuk dapat menyangkutkan cinta serta harapannya. Mungkin ia mengharapkan kakeknya suka kembali ke kampung halaman, untuk bersama-sama hidup dalam suasana yang hanya dapat dikenangnya kembali.

Tetapi meskipun Mahesa Jenar dapat ikut serta sepenuhnya merasakan betapa keringnya hidup tanpa sangkutan cinta, namun ia tidak dapat berbuat suatu untuk menenangkan hati gadis cantik itu. Oleh karenanya ia menjadi gelisah sendiri. Perlahan-lahan ia berdiri lalu berjalan mondar-mandir tanpa tujuan.

Sementara itu, matahari telah hampir menyelesaikan perjalanannya yang sunyi mengarungi langit. Cahayanya yang masih ketinggalan, tampak gemerlapan di atas punggung-punggung bukit.

Mahesa Jenar masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Dalam hatinya berkecamuk perasaan heran yang tiada habis-habisnya. Bagaimana mungkin seorang ayah dapat melupakan putrinya, hanya karena seorang perempuan yang tak dikenal asal-usulnya, sehingga ia telah melepaskan hari depan gadisnya serta hari depan garis keturunannya?

Beberapa saat kemudian, ketika Rara Wilis telah menjadi agak tenang, Mahesa Jenar pun segera mempersilahkannya untuk berjalan kembali. Sebab bagaimanapun Mahesa Jenar masih mengharapkan untuk dapat menjumpai seseorang di daerah ini.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH MIntarja
064

PERJALANAN di daerah ini tidaklah sesulit berjalan di hutan. Mereka hampir tidak pernah menemui rintangan-rintangan yang berarti.

Setelah mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti. Matanya memandang ke satu arah dengan tajamnya, dan sejenak kemudian ia meloncat beberapa langkah, lalu berjongkok, mengamati sesuatu.

Rara Wilis terkejut bercampur heran melihat tingkah laku Mahesa Jenar. Ia pun segera berlari dan ikut serta mengamati arah yang sama. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Karena itu dengan herannya ia bertanya, "Tuan, adakah Tuan melihat sesuatu? "

"Rara Wilis .... Lihat rumput-rumput ini," jawab Mahesa Jenar.

Rara Wilis memandang rumput yang ditunjuk oleh Mahesa Jenar itu dengan seksama, tetapi ia tetap tidak melihat sesuatu. "Ada apa dengan rumput-rumput itu?," tanyanya.

"Lihatlah, rumput ini rebah dan patah-patah. Lihatlah di tempat itu, juga terdapat hal yang sama, juga di sebelah sana dan sana. Kau tahu artinya? Apalagi di tempat yang tanahnya agak gembur ini."

Rupanya otak Rara Wilis pun tidak begitu tumpul, sehingga ia berteriak menebak. "Telapak kaki manusia ...?"

Ya, sahut Mahesa Jenar. Telapak kaki yang masih agak baru. Pasti seseorang baru saja melewati daerah ini. Mungkin ia adalah penduduk daerah Pliridan ini, atau mungkin....

Mahesa Jenar tidak melanjutkan perkataannya. Tetapi Rara Wilis dapat menangkap kelanjutannya. Mudah-mudahan bukanlah penjahat-penjahat itulah yang sengaja dikirim untuk mematai-matai perjalanan kita, katanya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri sejenak. Otaknya bekerja keras untuk mencoba menebak, siapakah kira-kira yang meninggalkan bekas tapak kaki yang masih segar itu.

Menurut pendapatnya, ada empat kemungkinan, yaitu penduduk setempat, Jaka Soka, Pasingsingan, atau Ki Ageng Pandan Alas. Diam-diam ia membandingkan telapak kaki itu dengan telapak kakinya sendiri.

Ternyata telapak kaki itu agak lebih dalam. Menurut pendapatnya, pastilah orang itu adalah orang yang gemuk sekali, atau orang yang membawa beban agak berat. Tiba-tiba terlintaslah dalam benaknya, bahwa Pasingsingan adalah kemungkinan yang paling dekat, sebab Pasingsingan dalam perjalanannya kembali ke Pasiraman mendukung Lawa Ijo yang terluka. Dan tidaklah mustahil kalau jalan ini dilewati, sebab arah perjalanannya sesuai dengan arah jalan ini.

Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Ia tidak ingin menggelisahkan hati gadis itu. Karena itu ia menjawab," Tidaklah begitu penting Rara Wilis, tetapi sebaiknya kita beralih jalan."

Rara Wilis mengerutkan dahinya, otaknya memang cukup cerdas, karena itu ia menjawab, "Kalau Tuan sampai menganggap perlu untuk menempuh jalan lain, pastilah ada sesuatu yang sangat penting. Katakanlah Tuan, supaya aku tidak usah menebak-nebak."

Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain, kecuali mengatakan segala sesuatu yang berkecamuk di dalam otaknya. Rara Wilis pun sependapat dengan pikiran itu. Maka mereka memutuskan untuk mencari jalan lain.

Demikianlah mereka meninggalkan dan menjauhi jalan setapak yang paling mungkin dilalui orang. Mereka membelok ke arah selatan, menyusup gerumbul-gerumbul kecil menuju ke arah pepohonan yang agak lebat di depan mereka. Mungkin di daerah itu terdapat mata air, atau tempat yang aman untuk bermalam, atau sukurlah kalau didiami orang.

Ketika mereka sampai, ternyata tempat itu tidak juga ditinggali manusia. Memang, di sana terdapat sebuah mata air yang mengalirkan air cukup deras, dan ditampung dalam sebuah telaga yang hijau bening.

Pada saat itu, matahari telah sampai di garis cakrawala. Sinarnya sudah tidak lagi dapat menembus takbir gelapnya malam, yang turun perlahan-lahan, tetapi pasti akan menelan bumi.

Mehesa Jenar segera mengadakan persiapan untuk bermalam. Hanya untuk kali itu, menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sebaiknyalah kalau tidak menyalakan api, meskipun Mahesa Jenar sadar bahwa andaikata bekas-bekas kaki tadi benar-benar bekas kaki Pasingsingan, pastilah ia tidak sengaja akan menjebaknya. Sebagai orang seperti Pasingsingan, apabila dikehendaki tentu tidak akan meninggalkan jejak sedemikian jelasnya.
Meskipun demikian Mahesa Jenar harus selalu tetap waspada. Dipersilahkan Rara Wilis untuk beristirahat, berbaring di atas tikar yang masih saja dibawanya ke mana-mana. Sedang Mahesa Jenar sendiri duduk bersandar pohon sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.

Alam pun segera menjadi hitam. Untunglah, bahwa bulan yang remaja menghiasi langit diantara taburan bintang-bintang. Sehingga sinarnya yang remang-remang dapat menembus dedaunan yang tidak begitu lebat seperti lebatnya hutan.

Mata Mahesa Jenar yang tajam itu selalu menembus keremangan malam untuk menangkap tiap-tiap gerakan yang mungkin mencurigakan. Tetapi tiba-tiba saja mata itu terbanting ke tubuh seorang gadis cantik yang berbaring diam di depannya. Dengan demikian jantungnya berdesir cepat tanpa sadar.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
065

MAHESA JENAR pernah bertemu, melihat dan berkenalan dengan puluhan bahkan ratusan gadis cantik. Bahkan ia pernah berkenalan dengan seorang yang menurut pendapatnya memiliki kecantikan yang sempurna, yaitu Nyai Wirasaba.

Tetapi tidaklah pernah ia merasakan suatu getaran yang aneh seperti dirasakannya pada malam itu.

Diam-diam Mahesa Jenar memandangi tubuh yang terbaring seperti sebuah golek kencana itu. Dari ujung kakinya, tangannya, dadanya sampai ke rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin malam yang berhembus lirih.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebagai manusia biasa, Mahesa Jenar juga kadang-kadang membayangkan suatu rumahtangga yang tenteram dan lumrah. Tetapi segera Mahesa Jenar dapat langsung memandang ke dirinya sendiri. Ia tidak lebih dari seorang perantau yang akan menjelajahi desa demi desa, hutan demi hutan, untuk mengabdikan keyakinannya. Untuk itu, maka masih banyaklah yang harus dikerjakan.
Karenanya, oleh kesadarannya tentang dirinya, maka segala perasaan-perasaan yang berdesir di hatinya terhadap gadis cantik itu segera didesak sekuat-kuatnya.

Maka dengan serta merta direnggutkannya pandangannya dari tubuh Rara Wilis, dan segera dilemparkan kembali ke arah bayang-bayang daun dan ranting-ranting yang selalu bergerak-gerak, seolah-olah sedang mengganggunya. Angin malam yang berdesir di dedaunan masih saja menyapu wajahnya, dan sekali-sekali terdengar di kejauhan ringkik kuda liar yang terkejut mendengar teriakan-teriakan anjing hutan.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja ia terbanting kembali ke dalam suasana yang kini sedang dihadapi. Suatu daerah asing yang diliputi oleh suasana yang membahayakan. Segera diangkatnya kepalanya, serta diperhatikannya keadaan di sekelilingnya dengan saksama. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas, Mahesa Jenar mendapatkan suatu firasat, bahwa ada sesuatu yang mencurigakan.

Mendadak telinganya yang tajam itu mendengar suara berdesir lambat sekali. Tetapi Mahesa Jenar sudah cukup mendapat gambaran bahwa seseorang datang mendekatinya. Orang itu pasti bukanlah orang yang mempunyai ilmu yang terlalu tinggi. Sebab gerak serta pernafasannya tidaklah dikuasainya dengan baik.

Karena itu sekaligus Mahesa Jenar dapat mengetahui dari arah mana orang itu datang. Tetapi ia tidak segera mengadakan tindakan apa-apa. Ia ingin mengetahui lebih dahulu, apakah kira-kira maksud orang itu mengintainya. Karena itu ia tetap duduk di tempatnya, serta bersikap seperti tak mengetahuinya. Meskipun dalam keadaan yang demikian ia sudah bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Suara berdesir itu pun semakin lama semakin jelas, serta suara tarikan nafasnya semakin memburu pula. Tetapi pada jarak tertentu suara itu tidak lagi maju. Rupanya orang itu baru mempersiapkan diri untuk menyerang.

Mendadak Mahesa Jenar terkejut ketika mendengar suara itu mundur dan menjauh. Segera Mahesa Jenar tahu, bahwa orang itu tidak bermaksud menyerang, tetapi hanya mengintai saja. Hal yang demikian itu malahan akan dapat mengandung bahaya yang lebih besar. Karena itu segera Mahesa Jenar bangkit dan dengan beberapa loncatan saja ia sudah berdiri di samping orang yang mengintainya.

Orang itu terkejut. Mahesa Jenar yang dikira tidak mengetahui kehadirannya, kini tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Karena itu tidaklah mungkin ia dapat melepaskan diri. Dengan demikian ia menghentikan langkahnya, dan tidak ada jalan lain kecuali mendahului menyerang. Orang itu segera mengangkat goloknya, dan dengan sekuat tenaga dibabatnya pundak Mahesa Jenar.

Mendapat serangan yang tiba-tiba, Mahesa Jenar menjadi terkejut pula. Ternyata meskipun orang itu tidak dapat menguasai pernafasannya dengan baik, tetapi ia mempunyai keistimewaan pula.

Mendengar desing golok yang terayun deras sekali, Mahesa Jenar barulah dapat mengukur kekuatan tenaga orang asing itu. Ketika golok itu sudah hampir menyinggung tubuhnya, segera Mahesa Jenar berkisar sedikit, serta meloncat selangkah ke samping. Dengan demikian golok yang tak mengenai sasarannya itu terayun deras sekali, sehingga oran gyang memegangnya agak kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian Mahesa Jenar segera meloncat maju dan menangkap pergelangan tangan orang itu, langsung diputarnya ke belakang. Dengan sekali dorong, orang itu telah jatuh tertelungkup dan tidak dapat bergerak lagi, kecuali berdesis menahan sakit.

"Kau siapa?," tanya Mahesa Jenar geram. Tetapi orang itu tidak menjawab. Demikianlah sampai Mahesa Jenar mengulangi pertanyaan itu dua kali. Akhirnya Mahesa Jenar menjadi jengkel dan menekan punggung orang itu semakin kuat serta memutar tangan yang terpuntir itu semakin keras, sehingga orang itu mengaduh kesakitan.

"Kalau kau tak menjawab, tanganmu akan aku patahkan," desak Mahesa Jenar.

Rupanya orang itu pun masih merasa perlu memiliki tangan sehingga dengan terpaksa menjawab, "Aku adalah Sagotra."

"Apa maksudmu mengintai kami? " desak Mahesa Jenar lebih lanjut. Kembali orang itu diam saja. Mahesa Jenar menjadi semakin jengkel, dan ia menekan orang itu lebih keras lagi, sehingga orang itu mengaduh lebih keras pula.

"Jawablah! Atau tanganmu betul-betul patah." Mahesa Jenar makin geram.

"Tak ada gunanya kau memaksa aku berkata lebih banyak lagi, jawabnya. Rupa-rupanya ia harus merahasiakan tugasnya betul-betul, sehingga sampai ke ajalnya kalau perlu.
"Keadaanku sudah pasti, berkata atau tidak berkata, aku akan menemui kematian. Karena itu biarlah aku mati dengan menggenggam rahasia," sambung orang itu.

Mahesa Jenar kagum juga melihat kejantanan orang itu, sampai berani menantang maut.

Tetapi ia ingin untuk mendapat keterangan tentang maksud orang itu, yang pasti tidak baik.

Maka setelah mendapat suatu cara ia berkata, "Baiklah, kalau kau tidak mau berkata. Aku hormati kejantananmu. Tetapi janganlah tanggung-tanggung. Aku ingin melihat pameran kesetiaan. Kau pernah mendengar cerita, bahwa di daerah ini banyak terdapat Ngangrang Salaka...? "

Mendengar Mahesa Jenar menyebut Ngangrang Salaka, tengkuk orang itu serentak meremang. Jantungnya berdegup hebat, sampai tubuhnya terasa gemetar. Ngangrang Salaka adalah sejenis semut ngangrang yang luar biasa buas serta rakusnya. Binatang apapun yang sampai terperosok ke sarangnya pasti hancur dimakannya. Keluarga semut itu membuat sarang di bawah pohon-pohon yang sudah membusuk, dengan memerlukan tanah 10 atau 15 langkah persegi. Tubuh semut itu besarnya tidak terpaut banyak dengan semut ngangrang biasa, hanya warnanya yang merah mempunyai beberapa baris-baris putih perak.

Mahesa Jenar merasakan, bahwa kata-katanya mempunyai akibat pada orang itu. Dengan demikian ia melanjutkan, "Kalau kau belum pernah mendengar, baiklah kau akan aku perkenalkan dengan semut itu. Tetapi sebelumnya lebih baik kalau kakimu aku patahkan dulu supaya kau tidak dapat lari darinya."

Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera Mahesa Jenar melepaskan tangan orang itu. Tetapi segera pula menangkap lipatan lutut kaki kanan, sedangkan tangan Mahesa Jenar siap mematahkan pergelangan kaki kirinya, dijepitkan pada lipatan lutut kaki kanan.

"Jangan..., jangan...!" teriak orang itu tiba-tiba. "Bunuhlah aku dengan cara lain. Tetapi aku jangan kau siksa di sarang semut Salaka"
.
"Itu adalah urusanku. Sekehendakkulah untuk memilih cara bagaimana sebaiknya membunuh kau," jawab Mahesa Jenar.



Nagasasra sabuk inten 12

UNTUK mencapai maksudnya itu, Lawa ijo meloncat mundur beberapa langkah dari lawannya. Secepat kilat tangannya mengambil sebuah kantong kecil di ikat pinggangnya. Segera cincin pemberian gurunya itu dikenakan di jari tangan kanannya. Tampaklah bahwa cincin itu bermata batu akik merah menyala. Itulah batu akik yang dinamai Kelabang Sayuta.

Bentuk akik Kelabang Sayuta tidaklah seperti kebiasaan batu-batu akik yang diasah halus, tetapi batu ini permukaannya kasar dan bahkan bergerigi tajam. Mahesa Jenar tertegun melihat lawannya mengenakan cincin. Pasti itu bukan sembarang cincin. Tetapi belum lagi ia sadar benar Lawa Ijo telah meloncat menyerangnya dengan garang.

Lawa Ijo telah mengerahkan segenap sisa tenaganya yang terakhir. Mahesa Jenar terkejut diserang secara demikian. Lawa Ijo ternyata tidak lagi mempergunakan perhitungan, melainkan asal saja ia membenturnya. Secepat kilat Mahesa Jenar menghindar ke samping, tetapi seperti orang gila Lawa Ijo menerjangnya kembali. Demikian terjadi beberapa kali.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya banyaklah kesempatan bagi Mahesa Jenar untuk memukul Lawa Ijo. Meskipun demikian ia masih belum mempergunakan kesempatan itu, sebab ia masih ingin mengetahui latar belakang dari tindakan-tindakan Lawa Ijo yang aneh itu. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam, seharusnya Lawa Ijo tidaklah kehilangan akal sampai sedemikian itu.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mempunyai kesempatan untuk banyak menduga-duga maksud lawannya. Sebab Lawa Ijo merangsang semakin hebat. Sehingga akhirnya terpaksa Mahesa Jenar melayani pula dengan segenap tenaganya. Maka pertempuran itu menjadi semakin seru dan aneh. Gerak Lawa Ijo menjadi semakin liar dan seolah-olah membabi buta namun tidak kurang pula berbahayanya.

Akhirnya Mahesa Jenar tak dapat lagi menahan dirinya mengalami tekanan yang gila, kasar dan liar itu. Karenanya, ketika ia melihat suatu kesempatan, maka segera ia meloncat maju, dan dengan gerakan yang dahsyat ia menghantam pelipis lawannya. Melihat serangan yang demikian hebatnya, Lawa Ijo sama sekali tak berusaha menghindarkan diri. Memang kesempatan yang demikianlah yang ditunggunya setelah sekian lama ia berusaha membentur tubuh lawannya, tetapi belum berhasil.

Dengan mengerahkan segala sisa tenaganya yang ada, Lawa Ijo melawan dengan sebuah pukulan yang dahsyat pula, menghantam tangan Mahesa Jenar. Maka terjadilah suatu benturan yang mengerikan. Mulutnya menyeringai menahan sakit, seolah-olah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Sendi-sendi tulangnya seakan-akan copot dari sambungannya. Sesaat pandangannya jadi kabur berputar-putar.

Sementara itu mereka yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu, darahnya serasa berhenti mengalir, ketika mereka melihat keadaan Mahesa Jenar. Mereka menyaksikan suatu keadaan yang tak terduga-duga. Pada saat terjadi benturan, tubuh Mahesa Jenar tergetar hebat, sehingga ia terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling pula.

Ketika Mahesa Jenar berusaha untuk meloncat berdiri, tiba-tiba tangan kanannya terasa pedih tak terhingga. Ketika ia mengamati tangan itu, ternyata terdapat sebuah goresan kecil.


Itulah luka akibat batu akik Kelabang Sayuta.!

Seterusnya, tidak hanya rasa perih itu saja, tetapi tiba-tiba mengalirlah rasa dingin yang seakan-akan menjalar menurut peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sehingga tubuhnya menjadi gemetar dan seakan-akan beku. Wajah Mahesa Jenar segera berubah menjadi pucat seputih mayat.

Jaka Soka yang selama itu, dengan enaknya melihat perkelahian itu, menjadi keheran-heranan juga menyaksikan akibat dari benturan itu. Lama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar yang sedemikian gagahnya, yang sudah bertempur hampir sehari penuh, dapat dirobohkan justru pada saat ia menyerang dan dibalas dengan sebuah serangan pula.

Para pengawal rombongan, yang merasa telah mendapat perlindungan dalam melakukan tugasnya, melihat kejadian itu dengan hati yang remuk. Pemimpin pengawal, dengan tidak menghiraukan keselamatan diri, segera meloncat mendekati Mahesa Jenar yang masih terduduk dan menggigil hebat.

Segera pemimpin pengawal itu berjongkok di samping Mahesa Jenar sambil meraba-raba tangannya. Tetapi ketika ia menyentuh tangan Mahesa Jenar itu, alangkah terperanjatnya. Tangan itu dingin seperti beku dan di beberapa tempat tampaklah semacam bisul-bisul yang baru tumbuh. Segera pemimpin pengawal yang tua dan berpengalaman itu mengetahui bahwa tubuh Mahesa Jenar telah terkena racun yang mengerikan. Maka segera ia dapat memastikan bahwa racun ini pasti berasal dari cincin yang dipakai oleh Lawa Ijo, yang bermata batu akik merah menyala, yang bernama Kelabang Sayuta.

Sejenak kemudian Lawa Ijo perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Meskipun masih agak pening, ia sudah dapat berdiri tegak. Maka ketika ia melihat Mahesa Jenar terduduk di tanah dengan wajah yang pucat, ia menjadi bergembira. Dan tiba-tiba terdengarlah suara tertawanya yang menakutkan seperti suara hantu yang memanggil-manggil dari lubang kubur.

Semua yang mendengar suara itu tegaklah bulu romanya. Kekalahan Mahesa Jenar berarti nyawa mereka akan lenyap. Sebab Jaka Soka telah mengambil keputusan untuk menghilangkan jejak penculiknya.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
057

HATI pengawal tua yang menahan tubuh Mahesa Jenar yang lemas itu, juga berdebar. Ia menjadi sangat sedih. Bukan karena takut menghadapi kematian yang sudah membayang di matanya, tetapi hatinya menjadi pedih sekali bahwa kemungkinan besar jiwa

Mahesa Jenar, seorang pahlawan yang tanpa menghiraukan dirinya sendiri telah berusaha menyelamatkan rombongan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya, tak akan tertolong lagi. Lebih-lebih ketika diingatnya bahwa Lawa Ijo telah melakukan perbuatan yang curang dan keji, dengan mempergunakan racun yang keras sekali untuk menumbangkan lawannya.

Maka hati pengawal tua itu serasa menyala dibakar oleh kemarahan. Ia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai mati. Seperti serangga menjelang api. Tetapi ketika ia akan bangkit dan melawan dengan mengamuk sejadi-jadinya, tiba-tiba terasa hawa yang hangat mengalir dalam tubuh Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut, tetapi ia tetap menahan dirinya. Hawa yang hangat itu ternyata mengalir semakin deras dan bahkan hampir mencapai titik panas tubuh yang wajar.

Timbullah berbagai pertanyaan dalam dirinya. Apakah yang akan terjadi dengan Mahesa Jenar ini? Sebentar kemudian bahkan panas itu dengan cepat naik melampaui batas panas tubuh yang biasa. Hal ini menjadikan pengawal tua itu semakin bingung. Apalagi sampai sekian lama Mahesa Jenar sendiri seolah-olah pingsan dan tidak bergerak sama sekali.

Memang Mahesa Jenar pada saat itu sedang kehilangan tenaga. Batu akik Kelabang Sayuta itu mempunyai kekuatan mirip dengan bekerjanya racun. Bahkan hampir sekuat racun bisa ular Gundala Wereng. Sehingga tubuh yang dikenainya, meskipun hanya segores kecil, akan menjadi bengkak-bengkak seperti ditumbuhi oleh beribu-ribu bisul. Kemudian tubuh itu akan lemas dan mengalami kelumpuhan menyeluruh, dan akhirnya disusul dengan kematian, dalam waktu yang singkat.

Ketika kekuatan akik Kelabang Sayuta itu sedang bekerja didalam tubuh Mahesa Jenar dengan mengikuti peredaran darah, tiba-tiba terjadilah suatu benturan yang dahsyat di dalam tubuh itu. Sebab pada saat itu, ketika tersentuh rangsangan dari luar, bisa ular Gundala Seta yang ada dalam tubuhnya mulai bekerja pula. Dalam pergolakan itu timbullah panas, sehingga tubuh Mahesa Jenar menjadi melampaui titik panas yang wajar.

Bisa ular Gundala Seta mempunyai kasiat yang luar biasa. Lebih-lebih ular ini adalah senjata Wisnu untuk melawan Kala, lambang dari keangkaramurkaan. Maka sedikit demi sedikit bisa ular Gundala Seta yang memang sudah ada di dalam tubuh Mahesa Jenar itu mendesak lawannya, menawar racun akik Kelabang Sayuta. Dengan demikian tubuh Mahesa Jenar menjadi berangsur-angsur baik kembali.

Meskipun demikian Mahesa Jenar adalah orang yang cerdik. Ia tidak segera menunjukkan keadaan itu. Sebab apabila sampai diketahui bahwa ia berangsur-angsur baik, tidak mustahil Lawa Ijo akan segera bertindak. Membinasakannya sekaligus.

Dalam hal yang demikian ia masih saja berpura-pura tidak sadarkan diri dan membiarkan tubuhnya ditahan oleh pengawal tua itu.

Lawa Ijo, dengan dada menengadah, memandang tubuh Mahesa Jenar. Matanya memancarkan kepuasan hatinya. Ia tertawa berkepanjangan sampai Jaka Soka membentaknya.

“Hai Kelelawar Hijau yang busuk. Jangan kau tertawa demikian. Aku bisa jadi pening mendengar suaramu yang memuakkan itu.”

Tetapi Lawa Ijo sama sekali tak mendengarnya. Ia sedang menikmati kemenangannya.

“Soka, lihatlah.... Orang ini yang diagung-agungkan oleh prajurit Demak. Di sini ia menjumpai kematian sedemikian nistanya. Dan tak seorang pun akan sempat menguburnya. Apalagi dengan suatu upacara keprajuritan, diiringi dengan tunggul-tunggul dan panji-panji. Sebab orang-orang lain pun segera akan mengalami nasib yang sama karena tanganmu,” kata Lawa Ijo.

Jaka Soka merasa diperingatkan akan tugasnya. Segera ia pun tersenyum aneh, sedangkan matanya yang redup membayangkan tuntutan maut yang mengerikan.

“Bagus, Lawa Ijo. Kita akan sama-sama menikmati kemenangan. Dan tak seorang pun dapat menahan aku membawa gadis cantik itu pulang ke Nusa Kambangan,” jawab Jaka Soka.

Tetapi sebentar kemudian, kepuasan mereka dipecahkan oleh suatu kenyataan yang sangat aneh bagi Lawa Ijo. Tak pernah seorang pun yang dapat melepaskan diri dari kematian, apabila tubuhnya tergores sedikit saja oleh aji Klabang Sayuta. Tetapi apa yang disaksikan sekarang adalah sama sekali tidak masuk akal.

Demikianlah ketika Mahesa Jenar merasa bahwa tubuhnya telah pulih kembali, segera dengan kecepatan gerak laksana kilat menyambar, ia meloncat, dan tahu-tahu ia sudah berdiri dihadapan Lawa Ijo. Semua yang menyaksikan hatinya tercekam, seperti melihat mayat yang bangun dari kubur. Bahkan mereka seolah-olah melihat diri mereka sendirilah yang karena pertolongan Tuhan Yang Maha Esa telah dibebaskan dari daerah mati.

Mahesa Jenar disamping rasa sukur yang tak terhingga, bahwa lantaran sahabat karibnya, Kiai Ageng Sela, ia telah menerima anugerah Tuhan yang telah membebaskannya dari pengaruh segala macam bisa. Namun ia juga menjadi marah bukan kepalang kepada Lawa Ijo.

Ternyata Lawa Ijo yang telah mematahkan pedangnya sendiri dengan jari-jari sewaktu perkelahian akan dimulai, bukanlah benar-benar seorang jantan. Seperti juga Watu Gunung, Lawa Ijo sama sekali tidak memperhatikan sikap kejujuran dalam segala masalah.

Wajah Mahesa Jenar berubah menjadi merah membara. Mulutnya terkatub rapat, tetapi giginya gemeretak. Terhadap orang-orang yang demikian, tidak lagi ada sikap yang manis.

Maka karena marahnya yang meluap-luap, Mahesa Jenar tidak lagi dapat mengendalikan dirinya sendiri. Sebelum Lawa Ijo sadar terhadap kejadian itu, Mahesa Jenar telah mengangkat satu kakinya yang ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Secepat kilat Mahesa Jenar meloncat maju, dan dengan sedikit merendahkan diri ia menghantam lambung lawannya dengan ilmunya yang terkenal, Sasra Birawa.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
058

LAWA IJO melihat segala gerak-gerik lawannya seperti dalam mimpi. Ia baru sadar ketika tiba-tiba dilihatnya Mahesa Jenar meloncat dekat sekali di hadapannya, dan tangannya melayang ke arah lambungnya. Tetapi segala sesuatunya telah terlambat. Terkena pukulan sisi telapak tangan Mahesa Jenar yang dilambari ilmu Sasra Birawa itu rasanya bagaikan tertimpa seribu gunung yang runtuh bersama-sama.

Demikian Lawa Ijo merasakan kedahsyatan Sasra Birawa, pandangannya terlempar dengan derasnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya mengarah tepat ke sebatang pohon raksasa yang berdiri kokoh kuat bagai benteng baja.

Mereka yang menyaksikan peristiwa itu menjadi bingung. Mereka tidak dapat mengerti perasaan apa yang berkecamuk di kepalanya, seolah-olah terlepas dari kesadaran diri. Sebab kejadian yang dilihatnya itu adalah hal yang tak dapat dibayangkan bisa terjadi.

Tetapi belum lagi tersadar, telah disusul pula oleh suatu peristiwa yang lain, yang tidak dapat mereka mengerti pula. Beberapa orang menjadi sedemikian bingungnya sehingga pingsan.

Tubuh Lawa Ijo yang melayang demikian derasnya dan hampir-hampir membentur sebatang pohon raksasa itu, tahu-tahu sudah berada dalam dukungan seorang yang berjubah abu-abu. Tak seorang pun tahu dari mana dan kapan ia datang. Wajah orang itu sama sekali tidak tampak, karena ia mengenakan topeng yang buatannya kasar dan jelek.

Semua orang memandang orang berjubah itu dengan tubuh gemetar.

Dalam pada itu, tiba-tiba Jaka Soka segera melangkah maju dan dengan hormatnya.

“Paman Pasingsingan, aku menyampaikan hormat setinggi-tingginya!” kata Jaka Soka kepada orang berjubah itu.

Pasingsingan. Nama itu mendengung kembali di telinga Mahesa Jenar. Inilah rupanya Guru Lawa Ijo yang telah datang untuk menolong muridnya. Maka mau tidak mau hatinya tercekam pula.

Ia pernah mendengar kesaktian orang ini dari gurunya. Dan sekarang, ia telah berhadap - hadapan dengan orang itu dalam keadaan yang tak menguntungkan.

“Rangga Tohjaya....” Tiba-tiba terdengar Pasingsingan berkata, tanpa menghiraukan salam Jaka Soka. Suaranya berat, dalam dan tak begitu jelas seperti bergulung dalam perutnya, karena pengaruh topeng yang dipakainya itu.

“Untunglah Lawa Ijo bukan sembarang orang, sehingga meskipun ia terluka parah, tetapi aku yakin bahwa ia masih akan dapat hidup,” sambung Pasingsingan.

Orang itu berhenti sejenak. Matanya yang berada dibalik topengnya itu memandang
Mahesa Jenar dengan tajamnya.

“Hal itu adalah karena pertolonganku. Kalau tidak, ia pasti sudah binasa terbentur pohon ini. Karena itu, kau aku anggap telah melakukan pembunuhan atas muridku,” lanjut Pasingsingan.

Kembali hati Mahesa Jenar melonjak. Ia tahu apa arti kata-kata itu. Dalam hal yang demikian, tiba-tiba ia teringat kepada almarhum kedua gurunya yang merupakan angkatan yang sama dengan Pasingsingan itu. Kalau saja mereka masih ada, pasti mereka tidak akan membiarkannya berhadap-hadapan sendiri. Tetapi sekarang ia seorang diri menghadapinya.
Sebagai seorang prajurit pastilah Mahesa Jenar tidak selalu menggantungkan dirinya kepada orang lain. Karena itu, meskipun ia tahu, bahwa kekuatannya tak seimbang, ia bertekad untuk melawan mati-matian. Maka segera kembali ia memusatkan pikiran, mengatur jalan pernafasannya dan mengumpulkan segala tenaganya pada sisi telapak tangannya, meskipun ia belum bersikap.

Tiba-tiba terdengarlah Pasingsingan mendengus lewat hidungnya, “Hem..., kalau Sasra Birawa itu gurumu yang mempergunakan, barangkali aku harus berpikir bagaimana menghindarinya. Tetapi kalau hanya kau yang akan mencobakan pada tubuhku, barangkali sebaiknya aku menyediakan diri sebelum aku membunuhmu!”

Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, mau tidak mau hati Mahesa Jenar bergetar hebat. Bukan karena ia takut mati. Tetapi kematian yang demikian pada saat ia diperlukan untuk melindungi suatu rombongan yang akan binasa, adalah sayang sekali.

Tetapi apa boleh buat.


Sementara itu tampaklah Pasingsingan bergerak maju. Ia selangkah demi selangkah mendekati Mahesa Jenar tanpa meletakkan Lawa Ijo dari dukungannya.
“Tohjaya, kau adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Dan kau telah beruntung mewarisi ilmu saktinya Sasra Birawa. Karena itu lawanlah aku. Supaya kau mati dengan tangan merentang, bukan mati sebagai seekor lembu yang disembelih,” kata Pasingsingan.

Mahesa Jenar yang sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada mati, kini seperti sudah tidak mempunyai perasaan lagi. Tak perlu lagi ada pertimbangan-pertimbangan lain. Maka segera ia pun bersiap untuk menerjang lawannya, menjelang saat matinya. Sementara itu Pasingsingan berdiri dengan acuh tak acuh saja seperti tidak akan terjadi sesuatu atas dirinya.

Orang-orang lain yang berada di situ, sudah seperti orang linglung yang tak tahu apa-apa. Perasaan mereka sudah terbanting-banting beberapa kali sampai hancur.

Meskipun ada diantara mereka yang matanya terbuka dan seolah-olah memandang Mahesa Jenar dan Pasingsingan berganti-ganti, tetapi mereka tidak mengerti tentang apa yang dilihatnya. Mereka tidak lagi dapat membayangkan, bahwa sebentar lagi Pasingsingan akan dapat berbuat sekehendaknya atas Mahesa Jenar tanpa ada yang dapat merintanginya.

Tetapi sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh suara berdentangnya orang menebang pohon. Ini adalah suatu keanehan baru, sesudah bertubi-tubi terjadi peristiwa-peristiwa yang aneh berturut-turut.

Pada saat itu, meskipun matahari belum tenggelam, tetapi sinarnya sudah demikian lemahnya sehingga tidak dapat lagi menembus rimbunnya daun-daun pepohonan rimba, sehingga di dalam hutan itu sudah menjadi agak gelap. Pada saat yang demikian, tidaklah biasa seseorang menebang pohon.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
059

APALAGI di tengah hutan Tambakbaya. Orang-orang yang mencari kayu, baik kayu bakar maupun untuk perumahan, tidak akan menebang kayu di tengah rimba yang demikian lebatnya. Lebih-lebih tidak jauh dari tempat itu, baru saja terjadi pertarungan yang dahsyat antara Mahesa Jenar dan Lawa Ijo. Berkali-kali terdengar Lawa Ijo bersuit atau berteriak nyaring. Mustahil kalau suara-suara itu tak didengarnya.

Tetapi ternyata suara itu terus terdengar. Bahkan semakin lama semakin jelas. Makin nyatalah, bahwa sumber suara itu tidak begitu jauh. Yang lebih mengherankan lagi, suara berdentangnya pohon yang ditebang itu, bagaikan nada-nada lagu yang mempesona.

Rupanya Pasingsingan heran juga mendengar suara itu. Diangkatnya wajahnya yang terlindung dibalik topengnya dan tampaklah ia mendengarkan suara itu dengan saksama. Dalam keadaan yang demikian, suasana berubah menjadi sunyi. Suara berdentangnya pohon ditebang itu menjadi bertambah jelas seakan-akan memenuhi seluruh rimba. Gemanya bersahut-sahutan disegala arah sehingga amat sulitlah untuk mengetahui dengan pasti sumber suara itu.

Sebentar kemudian suara itu menjadi agak kendor dan semakin perlahan-lahan pula. Tetapi sementara itu disusullah dengan mendengungnya suara baru yang juga seharusnya tak mungkin terjadi.

Di tengah-tengah rimba yang liar pekat, dan yang diliputi oleh suasana perkelahian dan hawa pembunuhan itu, menggemalah sebuah lagu. Dandanggula yang diungkapkan oleh sebuah suara yang indah. Lagu itu sedemikian mempesona, sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi lupa akan segala-galanya kecuali lagu itu sendiri.

Jaka Soka dan Mahesa Jenar adalah orang yang cukup masak. Tetapi meskipun demikian tampak juga bahwa mereka dihinggapi oleh perasaan-perasaan yang aneh. Dandanggula itu terdengar begitu jelas sehingga kata demi kata dapat dimengerti dengan baik. Bunyi syair dari tembang itu adalah:

Lir sarkara, wasianing jalmi
Ambudiya budining sasatnya
Memayu yu buwanane,
Ing reh hardaning kawruh,
Wruhing karsa kang ambeg asih,
Sih pigunane karya,
mBrasta ambeg dudu,
Mengenep nenging cipta,
Wruh unggayaning tindak kang ala lan becik,
Memuji tyas raharja (Kusw)



Tak seorang pun yang mengetahui tanggapan Pasingsingan atas lagu itu dengan pasti, sebab wajah orang itu tertutup oleh kedok. Tetapi melihat sikapnya, ia sama sekali tidak senang mendengarnya, meskipun lagu itu dibawakan oleh suara yang merdu dan syairnya mengandung nasihat yang baik. Sebagaimana seseorang harus berusaha menyelamatkan dunia ini dengan banyak memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang luas tentang cinta manusia untuk memberantas kejahatan. Serta dengan mengendapkan cipta untuk mengetahui batas antara baik dan buruk. Disertai doa kepada Tuhan untuk kebahagiaan.

Kemudian malahan Pasingsingan menjadi gelisah ketika ia mendengar lagu itu diulang kembali.

Akhirnya, tiba-tiba ia berputar menghadap ke utara dan dengan garangnya ia menggeram. Sedang kata-katanya sangat mengejutkan mereka yang mendengarnya, seperti halilintar meledak di atas kepala masing-masing. Termasuk Mahesa Jenar dan Jaka Soka.

”Setan tua...! Apa maksudmu mengganggu urusanku? Baiklah. Hanya sayang kali ini aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Karena itu lain kali aku akan menemuimu, kalau aku tidak sedang membawa beban seperti kali ini. Sampai ketemu Pandan Alas!” kata Pasingsingan. Setelah itu tanpa diketahui arahnya, tahu-tahu Pasingsingan telah lenyap dari pandangan mereka beserta Lawa Ijo.

Lenyapnya Pasingsingan itu tidak begitu menarik perhatian Mahesa Jenar dan Jaka Soka. Seperti berjanji, mereka setelah mendengar nama Pandan Alas, segera meloncat ke utara, kearah mana Pasingsingan tadi menghadap. Mereka menduga, bahwa dari sanalah sumber suara tadi datangnya. Sebab kebetulan Mahesa Jenar dan Jaka Soka berbareng ingin melihat wajah orang aneh itu.

Tetapi setelah agak jauh mereka menyusup, yang mereka temui hanyalah bekas luka pada pokok sebuah pohon raksasa. Meskipun mereka hanya menemui bekasnya saja, namun telah cukup menggetarkan hati mereka. Sebab menurut pendengaran mereka, waktu Ki Ageng Pandan Alas menebang pohon itu hanyalah sebentar saja, sedang yang mereka lihat bekasnya adalah luar biasa.

Sebatang pohon raksasa yang besarnya lebih dari empat pemeluk, ternyata telah luka hampir separonya. Sedang tatal kayu bekas tebangan itu, berbongkah-bongkah hampir sebesar kepala anjing. Sungguh mengagumkan. Apalagi ketika disamping pohon itu, yang mereka ketemukan hanyalah sebuah kampak kuno dari batu, yang diikat pada setangkai dahan basah sebagai pegangannya.

”Luar biasa,” desis Jaka Soka.

Mahesa Jenar mengangguk mengiakan. ”Aku tidak dapat mengira kekuatan apa yang telah membantu orang itu, sehingga ia dapat berbuat sedemikian mengagumkan.”

Jaka Soka tidak menjawab. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Akhirnya setelah dipertimbangkan bolak-balik ia mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu serta mengurungkan maksudnya menculik gadis yang memiliki keris Sigar Penjalin milik Ki Ageng Pandan Alas.

”Mahesa Jenar, ternyata aku salah duga kepadamu. Karena itu baiklah kali ini aku mengaku kalah dan mengurungkan niatku menculik gadis cantik itu. Aku merasa bersyukur, bahwa kau tidak mempergunakan ilmumu yang menurut Paman Pasingsingan disebut Sasra Birawa, ketika melawan aku. Kalau demikian halnya, maka aku kira aku pun akan jadi lumat. Juga benar apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo, bahwa Pandan Alas benar-benar berada di segala tempat. Sekarang baiklah aku pergi dulu. Sampai lain kali,” kata Jaka Soka kepada Mahesa Jenar.




--------------------------------------------------------------------------------

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
060

SELESAI mengucapkan kata-kata itu, segera dengan lincahnya Jaka Soka alias Ular Laut yang terkenal sebagai bajak laut yang bengis itu meloncat dan lenyap diantara lebatnya hutan.

Tinggallah kini Mahesa Jenar seorang diri. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah dan persoalan. Tetapi yang penting adalah mengatur rombongan itu kembali. Dan kemudian membicarakan kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut.

Ketika Mahesa Jenar sampai di tempat rombongan, ia melihat bahwa beberapa orang telah tampak mulai agak tenang kembali. Terutama para pengawal. Malahan ada diantaranya yang sudah dapat mengatur barang-barangnya. Meskipun demikian mereka masih saja nampak ketakutan. Ternyata ketika mereka mendengar gemerisik daun yang disebakkan oleh Mahesa Jenar, mereka masih terkejut juga. Tetapi ketika mereka melihat, bahwa yang datang adalah Mahesa Jenar, perasaan mereka nampak lega. Malahan ada yang berlari-lari menyambut dan langsung berjongkok dan menyembahnya. Terutama sepasang suami-istri yang telah minta kepadanya untuk membawa bebannya. Kedua orang itu menyembah sambil menangis minta diampuni.

Segera Mahesa Jenar pun menenangkan mereka, serta segera minta agar para pengawal menyalakan api. Sebentar kemudian beberapa orang telah mengumpulkan kayu, serta apipun segera dinyalakan.

Mereka, seluruh anggota rombongan, telah duduk mengelilingi api yang menyala-nyala dan menjilat-jilat ke udara. Daun-daun di atas nyala api itu bergerak-gerak seperti menggapai-gapai kepanasan. Malam pun segera turun dengan cepatnya. Pepohonan serta dedaunan nampak seperti diselimuti oleh warna yang hitam kelam. Di sana-sini mulai terdengar kembali suara-suara binatang malam.

Pada wajah-wajah di sekeliling api itu, masih menggores rasa cemas dan takut.

Kejadian-kejadian siang tadi sangat berkesan di hati mereka. Pertarungan-pertarungan dahsyat dan kejadian-kejadian yang aneh terjadi berturut-turut seperti peristiwa-peristiwa dalam mimpi yang menakutkan.

Terutama gadis cantik yang hampir-hampir saja menjadi sumber bencana. Ia masih saja merasa bahwa dirinya bersalah sehingga rombongan itu mengalami kekacauan, ia, bahkan hampir dimusnahkan, kalau tidak secara kebetulan ada seorang perkasa yang melindunginya. Karena itu ia masih saja belum berani memandang wajah-wajah kawan seperjalanannya.

Sejenak kemudian, kesepian itu dipecahkan oleh Mahesa Jenar yang berkata kepada orang-orang dalam rombongan itu. “Kawan-kawan, bahaya tidak lagi bakal datang, setidak-tidaknya malam ini. Karena itu tenanglah dan beristirahatlah. Aku kira kalian sehari penuh masih belum juga makan. Sekarang kesempatan itu ada. Sesudah itu kalian bisa tidur nyenyak seperti tadi malam.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, mereka serentak diperingatkan oleh rasa lapar yang semula tak dihiraukan. Segera diantara mereka membuka bekal-bekal mereka, tetapi tidak sedikit diantara anggota rombongan itu yang sudah tidak punya rasa lapar lagi. Juga sesudah itu, tak seorang pun yang dapat merasa kantuk.

Sejenak kemudian mulailah Mahesa Jenar berunding dengan para pengawal, tentang bagaimana baiknya rombongan tersebut.

Menurut pendapat Mahesa Jenar, sebaiknya rombongan itu tidak meneruskan perjalanan. Sebab kalau pada langkah pertamanya mereka sudah menemui kesulitan, kelanjutannya pun akan tidak menguntungkan.

Kemungkinan-kemungkinan yang tak menguntungkan adalah banyak sekali. Lawa Ijo, terang, bahwa ia tidak berdiri sendiri. Ia adalah seorang pemimpin dari sebuah gerombolan yang cukup besar. Hanya sekarang gerombolan itu seakan-akan sedang dibekukan. Tetapi, kalau sampai mereka mendengar, bahwa kepala mereka dilukai, mereka pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu, selagi masih ada waktu, sebaiknya rombongan itu besok pagi berangkat kembali ke tempat semula.

Tak seorang pun diantara mereka yang dapat menolak pendapat ini. Memang pada umumnya mereka telah dihinggapi perasaan takut yang luar biasa. Untunglah, bahwa pada saat itu datang Mahesa Jenar menolong mereka. Kalau tidak, mereka pasti sudah jadi bangkai.

Tetapi dalam suasana yang demikian, mendadak gadis cantik yang merasa dirinya bersalah, berkata kepada Mahesa Jenar, “Tuan, aku terpaksa tidak dapat menerima saran Tuan untuk kembali. Sebab aku memang tidak punya tempat untuk kembali. Tetapi aku juga tidak dapat memaksa rombongan ini berjalan terus. Karena itu, baiklah kalau rombongan ini berjalan kembali dengan para pengawal, aku akan berjalan sendiri melanjutkan perjalanan ke Pliridan. Hanya sebagai bekal perjalanan, aku minta kerisku tadi dikembalikan kepadaku. Sebab kalau aku bertemu seorang seperti pemuda yang akan menculik aku, sebaiknyalah kalau aku bunuh diri.”

Gadis itu mengucapkan kata-katanya dengan mata sayu diwarnai oleh hatinya yang putus asa. Ia merasa tidak berhak lagi berkumpul dengan orang-orang serombongannya. Sebab ia telah merasa berbuat kesalahan yang tak termaafkan.

Mahesa Jenar dan beberapa orang tampak mengerutkan keningnya. Memang dalam keadaan terjepit, ada diantara mereka yang sampai hati mengumpati gadis itu. Tetapi dalam keadaan yang demikian, timbul pulalah perasaan iba terhadapnya.

Nagasasra sabuk inten 20

ANCAMAN itu pasti merupakan salah satu sebab kenapa tak seorangpun yang berani menentang peraturan Sima Rodra, kecuali malahan seorang tua yang sudah putih seluruh rambutnya. Juga merupakan suatu sebab kenapa hanya dengan 10 orang, mereka berani melakukan tugasnya, bahkan berani melakukan siksaan yang sedemikian kejamnya.

Cemeti orang berewok yang gagah itu masih tetap memukul-mukul dengan bunyi yang menyentak-nyentak. Juga dari mulut orangnya sendiri pun tak habis-habisnya terdengar caci maki dan umpatan-umpatan yang kotor.

Melihat semuanya itu, hati Mahesa Jenar semakin tidak tahan lagi. Tetapi hanya karena perhitungan keselamatan penduduk setempat, ia tidak segera bertindak. Ia telah memutuskan untuk mengikuti gerombolan itu sampai jauh keluar desa. Di sanalah ia akan memuntahkan segala kemauan hatinya, kemarahannya serta kebenciannya. Sebab dalam wawasannya, ke 10 orang itu tidaklah lebih dari kelinci-kelinci yang sama sekali tak bekerja, kecuali hanya berteriak-teriak saja.

Tetapi tiba-tiba hatinya menjadi tak tahan lagi, ketika ia melihat orang tua yang kesakitan itu dengan menangis-nangis memeluk kaki orang yang tinggi besar dan sedang memukulinya itu, minta untuk dimaafkan. Tetapi apa yang didapatnya, adalah tidak saja pukulan-pukulan cemeti, juga kakinya yang besar-besar itu, yang sedang dipeluk demikian eratnya, dengan sekuat tenaga dikibaskan, sehingga orang tua yang malang itu terpelanting.

Pada saat itu hampir saja Mahesa Jenar meloncat maju. Tetapi, tiba-tiba terasa punggungnya ditepuk orang dengan mengandung tenaga dalam yang luar biasa besarnya. Mendapat tepukan yang bertenaga luar biasa itu, Mahesa Jenar sangat terkejut. Apalagi ketika ia menoleh dan melihat orang yang menepuknya. Malahan hampir saja ia berteriak, kalau saja orang itu tidak mendahuluinya berkata, “Sst, jangan sebut namaku, panggil aku dengan sebutan lain.”

Orang itu tidak lain adalah Ki Ageng Pandan Alas. Sehingga demikian terkejutnya Mahesa Jenar menjawab sambil tergagap,

“Baik Ki Ageng....”

“Sst...,” kembali Ki Ageng Pandan Alas berdesis, sambil tersenyum geli, “Jangan kau sebut itu.”

“Ach...,” jawab Mahesa Jenar. “Aku menjadi bingung atas kehadiran Tuan yang tiba-tiba.”

“Kau akan menolong orang itu?” tanya Ki Ageng Pandan Alas masih berbisik.

“Ya, aku tidak sampai hati melihat siksaan yang sama sekali tak berperikemanusiaan itu,” jawab Mahesa Jenar.

Ki Ageng Pandan Alas tersenyum dengan wajah Ki Ardi yang jenaka. Kemudian katanya, “Seharusnya kau berpikir sebaik-baiknya.”

Mendengar keterangan Ki Ageng Pandan Alas, Mahesa Jenar teringat akan kecurigaan atas pembicaraan orang tua itu. Maka jawabnya, “Memang, Tuan, aku merasakan beberapa keanehan dari orang itu.”

“Nah lihatlah apa yang akan terjadi,” potong Ki Ageng Pandan Alas, sambil menunjuk kepada orang tinggi besar yang sedang memukuli petani miskin itu.

Benarlah bahwa sejenak kemudian terjadilah suatu hal yang sama sekali tak terduga-duga. Tiba-tiba saja orang yang tinggi besar itu tubuhnya menjadi kejang. Wajahnya berubah menjadi pucat. Beberapa kali ia meneriakkan kata-kata yang tak begitu jelas, dan hanya dalam waktu yang singkat ia terjatuh tak tahu diri.

Segera terjadilah suatu kegemparan. Beberapa orang anak buahnya segera berloncatan untuk memberikan pertolongan, tetapi usaha itu sia-sia. Orang yang tinggi besar dan berewok itu ternyata sudah tidak bernapas lagi.

Melihat kejadian itu, salah seorang anggota gerombolan itu menjadi marah sekali. Ia pun bertubuh tinggi besar, tetapi tidak berewok. Rambutnya bahkan hanya tumbuh jarang-jarang. Segera ia meloncat maju dengan wajah yang merah padam. Ia sebenarnya tidak tahu apakah sebabnya maka kawannya mengalami nasib yang demikian.

Tetapi karena yang menjadi sebab menurut pikirannya adalah orang tua yang tak mau mentaati peraturan itu, maka kepadanyalah kemarahannya akan ditumpahkan.

Melihat sikap yang garang sekali, orang tua itu tampaknya menjadi semakin ketakutan. Maka dengan gemetar segera iapun berlutut dan mencium kaki orang yang sedang marah itu. Tetapi juga orang itu sama sekali tak menghiraukan. Bahkan sedemikian marahnya karena ia telah kehilangan pemimpinnya, ia bermaksud membunuh saja orang tua itu. Maka dengan menggeram hebat sekali ia mencabut golok yang terselip dipinggangnya.

Tetapi belum lagi ia berhasil mencabut golok itu, iapun tiba-tiba menjadi kejang-kejang pula, dan tak lama kemudian iapun jatuh tak sadarkan diri, untuk kemudian menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Melihat hal itu, semakin gemparlah mereka yang menyaksikan. Terutama para gerombolan Sima Rodra. Ke-8 orang sisanya, bagaimanapun marahnya, tak seorang pun lagi yang berani berbuat sesuatu atas orang tua itu.

Sebab mereka mengira bahwa orang tua itulah yang menyebabkan kematian kedua orang kawannya. Maka ketika salah seorang dari mereka dengan perasaan takut meloncat ke atas kudanya, yang lain pun berbuat demikian.

Ketika mereka akan pergi, salah seorang dari mereka sempat pula menakut-nakuti penduduk. “Kamu semua telah mencoba melawan kami. Baiklah, lain kali kami akan datang, dan membunuh kamu semua sampai ke anak cucu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, segera mereka melarikan kuda mereka kencang-kencang.

Sepeninggal mereka, penduduk yang menyaksikan peristiwa itu semua, untuk sementara tertegun kaku. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tetapi tiba-tiba mereka sadar akan arti ancaman gerombolan Sima Rodra itu bagi keluarga mereka masing-masing.

Kalau benar hal itu akan mereka lakukan, pastilah mereka akan ludes tanpa ada yang melanjutkan nama serta garis keluarga masing-masing.




NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
097

MENGINGAT hal yang demikian itu, penduduk Pangrantunan segera menjadi ketakutan. Takut pada pembalasan yang bakal datang, karena seorang tua yang belum lama tinggal di tempat itu tidak mau memenuhi permintaan gerombolan Sima Rodra untuk menyerahkan dua tiga butir kelapa.

Kalau mula-mula mereka merasa kasihan kepada orang tua itu, kini tiba-tiba berubah menjadi perasaan marah. Alangkah kikirnya orang tua itu. Serta karena kekikirannya maka seluruh penduduk akan mengalami akibatnya. Meskipun andaikata dua orang anggota gerombolan itu mati karena kebetulan saja, tetapi orang tua yang kikir itulah yang menjadi sebabnya. Apalagi kalau orang tua itu sengaja meracun atau menyihirnya.

Dalam pada itu tiba-tiba penduduk yang bertubuh pendek ketat penuh dengan otot-otot yang menonjol, berteriak dengan kerasnya.

“Hai, saudara-saudara penduduk desa ini. Siapakah sebenarnya yang bersalah andaikata gerombolan Sima Rodra marah kepada kita?”

Maka terdengarlah jawaban dari segenap penjuru. “Orang tua itu, orang tua yang kikir itu.”

Orang tua yang tadi dipukuli gerombolan Sima Rodra itu menjadi bertambah gemetar. “Saudara-saudaraku, apakah salahku terhadap desa ini. Aku telah menerima hukumanku karena aku tidak mau membayar pajak bahan makanan kepada gerombolan Sima Rodra. Lalu apa lagi kesalahanku terhadap kalian?”

“Jangan banyak omong,” bentak orang yang tinggi kekurus-kurusan. “Sejak kau tinggal di desa ini bulan yang lalu, kau hanya mendatangkan bencana saja. Sekarang kau mempergunakan ilmu sihir atau senjata-senjata racun untuk membunuh anggota gerombolan Sima Rodra itu, tanpa mempertimbangkan akibatnya. Bukankah kau tadi mendengar sendiri ancaman mereka terhadap desa kita?”

Orang tua itu seolah-olah menjadi bertambah ketakutan, seperti seekor tikus yang sudah berada di dalam cengkeraman kucing yang sedang marah.

Sementara semua peristiwa itu berlangsung, Mahesa Jenar yang tidak mengerti terhadap semua yang terjadi, menjadi diam kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap orang tua itu. Apakah ia harus menolong ataukah dibiarkannya saja menjadi korban kemarahan penduduk.

Ki Ageng Pandan Alas dapat meraba perasaan Mahesa Jenar, maka katanya, “Mahesa Jenar, jangan kau ributkan orang tua itu. Ia cukup mampu, bahkan berlebihanlah kemampuannya untuk menjaga diri.”

“Tuan...,” tanya Mahesa Jenar, “permainan apakah yang sedang dilakukan oleh orang tua itu sebenarnya? Adakah orang itu pula yang telah melakukan pembunuhan terhadap kedua orang anggota gerombolan itu?”

“Ya....,” sahut Ki Ageng Pandan Alas. “Tangan orang itu adalah tangan maut apabila dikehendakinya. Dengan sekali tekan pada urat-urat tertentu, seseorang tidak akan dapat hidup lebih dari lima tarikan nafas lagi.”

Mahesa Jenar mendengar keterangan itu dengan penuh keheranan. Alangkah saktinya. Sehingga akhirnya ia bertanya, “Tuan..., guruku, termasuk Tuan yang mempunyai ciri Keris Sigar Penjalin, serta yang akhir-akhir ini dengan sebuah tembang Dandanggula yang merdu.”

“Ah..!” potong Pandan Alas, “kau senang pada lagu itu?”

“Tentu... tentu,” sahut Mahesa Jenar, “tetapi siapakah orang tua itu, yang sama sekali tidak mempergunakan ciri-ciri khusus?”

“Aneh kau Mahesa Jenar,” jawab Ki Ageng Pandan Alas. “Kalau ciri-ciri khusus itu ditunjukkan pada setiap saat dan tempat maka ia akan kehilangan arti kekhususannya. Kecuali hanya dalam saat-saat yang perlu dan penting. Tentang orang tua itupun demikian pula. Ia menganggap sama sekali tidak perlu untuk memperkenalkan dirinya di hadapan penduduk ini.”

“Tetapi siapakah sebenarnya orang itu?” desak Mahesa Jenar tidak sabar.

Ki Ageng Pandan Alas tersenyum lucu, tepat seperti pada saat Sagotra mendesaknya untuk melanjutkan ceritera tentang dua ekor naga yang bertempur melawan orang bintang kemukus.

“Mahesa Jenar... sebenarnya kau harus dapat menerka. Siapakah yang paling berkepentingan dengan daerah ini? Beberapa tokoh sakti yang kau kenal? Siapakah diantara mereka yang paling tersinggung apabila daerah ini sampai dinodai? Aku, yang tidak begitu berkepentingan, memerlukan untuk membuktikan kebenaran berita yang aku dengar bahwa daerah ini telah merupakan daerah yang harus menyerahkan bulu bekti kepada salah satu gerombolan aliran hitam. Bagaimanapun aku merasa tidak rela atas hal yang berlaku itu, sebab aku pernah ikut serta menikmati kebesaran daerah ini, sebagai daerah sahabatku. Tetapi untunglah bahwa yang berhak telah datang untuk melindungi daerahnya,” jawab Pandan Alas kemudian.


Mendengar penjelasan Ki Ageng Pandan Alas hati Mahesa Jenar berdesir.


“Jadi, beliau itukah Ki Ageng Sora Dipayana?” tanya Mahesa Jenar.


“Sst... jangan terlalu keras,” desis Pandan Alas.


Perasaan Mahesa Jenar menjadi terputar-putar tidak karuan menyaksikan kenyataan itu. Gembira, terharu, sedih dan segala macam, berkecamuk di dadanya. Seorang yang sakti, serta telah memutuskan untuk menarik diri dari pergaulan, terpaksa turun tangan, dan benar-benar mempergunakan tubuhnya sendiri, untuk soal-soal tetek bengek yang seharusnya dapat diselesaikan oleh orang lain.


Tetapi disamping itu, tumbuh pulalah perasaan hormat serta kekaguman Mahesa Jenar atas sifat kepemimpinan Ki Ageng Sora Dipayana. Sehingga apabila perlu, ia sendiri tidak segan-segan untuk bertindak serta mengorbankan diri.

Sementara itu, kemarahan rakyat Pangrantunan rupa-rupanya sudah memuncak. Sehingga beberapa orang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tinjunya.

Tiba-tiba terdengar suara melengking dari seorang yang bertubuh gemuk, tinggi dan berwajah keras seperti batu, “Saudara-saudara, marilah kita tangkap saja orang itu. Kita serahkan kepada Sima Rodra sebagai tumbal untuk keselamatan desa kita.”

“Bagus... bagus.... Setuju..., setuju....” teriak yang lain dari segala penjuru.





CERITA BERSAMBUNG = 23 Mei 1999
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
098

ORANG TUA yang tidak lain adalah Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, tampak semakin ketakutan. Tetapi perasaan Mahesa Jenar sudah tidak lagi tersiksa menyaksikan kejadian-kejadian itu.

"Tetapi... ," kata orang tua itu mencoba membela dirinya kembali, "Apa yang aku lakukan sebenarnya bukanlah maksudku sendiri. Bagaimana aku berani membantah peraturan pajak itu? Apalagi apa-apa yang dibutuhkan telah ada tersedia."

"Bukan maksudmu sendiri...?," tanya yang tinggi kekurus-kurusan.

"Ya, bukan!", jawab orang tua itu.

"Lalu, siapakah yang menyuruhmu berbuat demikian?" tanya yang pendek ketat dengan otot-otot yang menjorok keluar."

Kembali terjadilah suatu hal di luar dugaan. Tiba-tiba orang tua itu menunjukkan jarinya kepada Mahesa Jenar dan Pandan Alas.

"Orang asing beserta anaknya itulah yang telah memaksa aku untuk tidak mentaati peraturan dari gerombolan Sima Rodra. Aku sama sekali tidak tahu maksudnya, tetapi aku tak berani menolaknya. Tanyakan pada anak muda itu, apakah maksudnya ia berbuat demikian," kata orang tua itu.

Mendengar jawaban itu, serta merta semua mata memandang kepada Mahesa Jenar dan Ki Ageng Pandan Alas yang berdiri tidak begitu jauh di belakang mereka.

Sedang Mahesa Jenar sendiri, yang tidak menduga sama sekali akan terlibat dalam masalah itu, menjadi terkejut tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia jadi cemas.

Kalau saja kemarahan penduduk ditujukan kepada Mahesa Jenar, lalu apa yang harus dikerjakan. Haruskah ia melawan dan mungkin akan menimbulkan bencana bagi penduduk yang seharusnya mendapat perlindungan?.

Tetapi ia lebih tidak mengerti lagi, ketika ia memandang wajah Ki Ageng Pandan Alas yang sama sekali tak berkesan apa-apa, malahan wajahnya tampak menggelikan. Sehingga terpaksa ia bertanya, "Kenapa Ki Ageng Sora Dipayana membebankan masalah ini kepada kami, Tuan."

"Mahesa Jenar... Dalam keadaan demikian, sebagaimana kau ketahui orang tua itu telah mengetahui kehadiranku. Serta malahan ia mempunyai cara yang aneh untuk mengucapkan selamat datang. Tetapi rupa-rupanya ia masih belum perlu langsung menemuiku seperti juga aku merasa belum waktunya.

Tetapi terang ia minta tolong kepadamu untuk menjelaskan maksudnya. Nah Mahesa Jenar, terserah pelaksanaannya kepadamu, untuk membangkitkan kembali jiwa kejantanan bagi penduduk daerah ini. Tolonglah orang tua itu serta kalau perlu berilah sedikit penerangan dan pertunjukan yang mengesankan," jawab Pandan Alas berbisik.

Sementara itu perhatian semua orang telah tertuju kepada Mahesa Jenar dan Ki Ageng Pandan Alas. Bahkan ada diantara mereka yang sudah mulai bergerak mendekati. Seorang yang kurus pendek dengan suara yang menjerit bertanya kepada Mahesa Jenar, "He anak muda..., benarkah kau memaksa kepada orang tua itu untuk tidak mentaati peraturan Sima Rodra?"

Mahesa Jenar merasa akan canggung juga untuk menjawab, sampai orang kurus itu membentaknya kembali, "Ayo jawab!"

Tetapi Mahesa Jenar masih juga rikuh untuk berbuat gagah-gagahan di hadapan Ki Ageng Sora Dipayana. Karena itu ia untuk beberapa saat hanya dapat memandangi wajah orang tua itu, yang tiba-tiba tidak ada lagi perhatian terhadapnya, tetapi tersenyum-senyum sambil mengangguk-angguk kepada Ki Ageng Pandan Alas.

Sebaliknya wajah Ki Ageng Pandan Alas yang kemudian berubah menjadi ketakutan.

Melihat permainan itu semua hampir-hampir Mahesa Jenar tak dapat menahan tertawanya. Rupa-rupanya sedemikian karib persahabatan orang-orang sakti pada saat itu, sehingga sampai hari tuanya pun mereka masih saja bergurau, meskipun dalam keadaan yang demikian.

Sejenak kemudian ketika Mahesa Jenar masih juga belum menjawab, Ki Ageng Sora Dipayana berteriak, "Ya, itulah orangnya yang memaksa aku untuk tidak mentaati peraturan Sima Rodra, sehingga mungkin akan menimbulkan bencana."

Mendengar suara itu, Mahesa Jenar menjadi sadar bahwa ia harus benar-benar membantu orang tua itu untuk kepentingan kebangkitan daerah Pangrantunan. Karena itu ia menjawab, "Ya, akulah yang memaksa orang tua itu untuk tidak menyerahkan pajak kepada Sima Rodra."

"Jadi... kaulah biang keladi dari bencana ini, " teriak salah seorang dari mereka.

"Tangkap juga orang itu," teriak yang lain tiba-tiba.

"Bagus, tangkap juga orang itu. Kita serahkan pula kepada Sima Rodra untuk tumbal bersama-sama orang tua celaka itu," sahut yang gemuk tinggi serta berwajah keras seperti batu.

"Tangkap..., tangkap.... " teriak yang lain bersama-sama. Dan serentak mulailah mereka bergerak.

Melihat gerakan itu Ki Ageng Pandan Alas tampaknya menjadi ketakutan sekali, sehingga tubuhnya gemetar. Dan tiba-tiba ia meloncat melarikan diri.

"Tangkap..., tangkap...." teriak penduduk itu dengan marahnya, ketika mereka melihat salah seorang dari orang asing itu melarikan diri. Tetapi tiba-tiba terdengarlah suara Mahesa Jenar, "Jangan kejar dia. Akulah yang akan mempertanggung jawabkan."



CERITA BERSAMBUNG = 24 Mei 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
099

SUARA itu dilontarkan dengan sepenuh tenaga yang dapat langsung merangsang mereka yang mendengarnya, sehingga terkejutlah semua orang yang sedang siap untuk memburu Ki Ageng Pandan Alas. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tetapi yang terasa oleh mereka hanyalah suara Mahesa Jenar itu seperti memukul dada mereka masing-masing, sehingga dengan demikian serentak mereka berhenti.

Mereka tersadar ketika Ki Ageng Pandan Alas sudah lenyap, sehingga salah seorang berteriak marah sekali.” He..., kenapa dibiarkan orang tua tadi melarikan diri. Sekarang jangan lepaskan anak muda itu.”

”Jangan takut aku melarikan diri, “ jawab Mahesa Jenar dengan suara yang mantap.
”Aku akan tetap tinggal di sini. Tangkaplah.”

Mendengar tantangan itu, beberapa orang yang sudah akan menyerbu justru terhenti. Mereka menjadi ragu-ragu dan bimbang. Kenapa orang itu begitu berani menghadapi seluruh penduduk Pangrantunan.

”Saudara-saudara penduduk Pangrantunan, salahkah aku kalau aku menasehati orang tua itu untuk tidak tunduk kepada gerombolan liar yang mengganggu ketenteraman desa kalian?, “ kata Mahesa Jenar selanjutnya.

Mendengar pertanyaan itu semua orang menjadi terdiam. Memang dalam hati kecil mereka, sama sekali mereka tidak rela menyerahkan harta benda mereka kepada orang-orang yang datang untuk memerasnya. Tetapi karena ketakutan dan tidak adanya pimpinan, mereka terpaksa melakukannya. Baru setelah beberapa saat terdengar jawaban diantara mereka. “Tetapi dengan tindakan itu, nasib kita semua akan celaka.”

”Nasib saudara-saudara bukanlah mereka yang menentukan,” sambung Mahesa Jenar. “Tetapi ada di tangan saudara sendiri. Kenapa saudara tidak berbuat sesuatu?”

Kembali mereka terdiam mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Ya, kenapa mereka tidak pernah berpikir untuk suatu usaha menghindarkan diri dari pemerasan itu. Tetapi apakah yang dapat dilakukan...?

Tiba-tiba diantara mereka berteriak seorang yang berkumis tebal dan bermata tajam seperti mata burung hantu. “Hai anak muda, kau jangan memperuncing kemarahan kami. Dengan omonganmu itu kau akan berusaha menjelomprongkan kami ke lembah kesengsaraan yang lebih hebat. Kau lihat sekarang, betapa sulitnya keadaan kami sehari-hari, tiba-tiba orang tua celaka itu menambah beban kesulitan kami karena hasutanmu. Sekarang kau berusaha untuk menghasut seluruh penduduk. Apa kau kira kami ini semuanya orang-orang bebal seperti si tua celaka itu? “

”Memang...,” jawab Mahesa Jenar, “aku ingin menghasutmu supaya kamu semua tidak lagi mau menyerahkan sebutir padi pun kepada Sima Rodra.”

”Dengan perbuatan itu,” sambung si kumis tebal dan bermata Burung Hantu, “apakah keuntunganmu? Nah, sekarang tutup mulutnya dan jangan mencoba melawan. Kau akan kami ikat bersama-sama orang tua itu untuk tumbal keselamatan desa ini. Bukankah begitu kawan-kawan...?”

”Betul..., betul....,” sahut mereka hampir serentak.

Dan bersamaan dengan itu, mulailah mereka beramai-ramai menyerbu Mahesa Jenar. Tetapi seperti patung, Mahesa Jenar tetap di tempatnya. Melihat orang asing itu sama sekali tidak bergerak, kembali mereka jadi ragu-ragu dan malahan berhenti beberapa langkah di sekitar Mahesa Jenar. Mereka memandang dengan mata yang bertanya-tanya. Bahkan beberapa diantaranya malahan mulai agak takut-takut melihat sikap yang sedemikian tenangnya.

Melihat hal itu Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Juga Ki Ageng Sora Dipayana tak kalah sedihnya. Sebab dengan peristiwa itu terbuktilah betapa mundurnya keberanian penduduk menghadapi suatu persoalan.

Beberapa tahun yang lalu mereka adalah rakyat yang cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan-kesulitan. Tetapi sekarang mereka tidak lebih dari segerombolan pengecut yang berjiwa budak yang paling rendah. Ketika Mahesa Jenar sempat mengerlingkan mata kepada Ki Ageng Sora Dipayana, alangkah terperanjatnya, melihat mata orang tua itu mengaca.

Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “Ya..., itulah yang telah menghasutku, kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian akan menangkapnya?”

Selesai mengucapkan kata-kata itu segera ia meloncat menyusup di antara orang banyak dan langsung menyerbu Mahesa Jenar. Mahesa Jenar segera menangkap maksud Ki Ageng Sora Dipayana. Meskipun dengan agak segan dan malu-malu, ia meladeni juga orang tua itu. Maka segera terjadilah perkelahian. Ki Ageng Sora Dipayana bergerak dengan sekenanya saja. Memukul, menendang tak berketentuan. Tetapi maksudnya untuk memancing keberanian penduduk, ternyata berhasil.

Melihat orang tua itu mendahului menyerang, segera yang lain pun bertindak. Melihat orang-orang kampung itu mulai berlari-lari untuk menangkapnya, segera Mahesa Jenar meloncat kesana kemari dan sekadar mengadakan perlawanan. Dalam beberapa benturan Mahesa Jenar mengetahui bahwa diantara mereka ada juga yang mempunyai kekuatan cukup serta pengetahuan tata berkelahi yang agak tinggi.

Karena itu anehlah kalau daerah ini tidak dapat berbuat sesuatu untuk melawan kekuasaan Sima Rodra.

Maka, kunci dari kemunduran ini pasti terletak pada pimpinan. Bagaimanapun, kepala daerah Perdikan Pengrantunan yang sekarang adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana, yang bernama Ki Ageng Lembu Sora. Apakah Ki Ageng Lembu Sora ini sama sekali tak memiliki sifat-sifat ayahnya? Bukankah apabila dikehendaki untuk melawan Sima Rodra, daerah ini tidak berdiri sendiri?

Pangrantunan hanyalah salah satu dari desa-desa yang berada di dalam lingkaran Perdikan yang sekarang berkedudukan di Pamingit. Tetapi menilik kekuatan Pangrantunan ini sendiri ditambah dengan daerah-daerah lain, pastilah mereka dapat setidak-tidaknya mencegah kekuasaan Sima Rodra atas daerah ini.

Maka setelah mereka berkejar-kejaran serta berkelahi beberapa lama, segera Mahesa Jenar meloncat dengan tangkasnya menembus kepungan mereka, lalu dengan teguhnya berdiri menghadapi penduduk Pangrantunan yang mengejarnya itu sambil berteriak nyaring, “Cukup kawan-kawan, permainan kita ternyata berhasil baik. Jangan menyerang aku lagi. Aku tidak akan melawan. Aku akan tunduk kepada kalian. Tetapi sebelumnya aku ingin berbicara sedikit lagi kepada kalian.”



CERITA BERSAMBUNG = 25 Mei 1999

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
100

KETIKA penduduk Pangrantunan yang sedang mengejar Mahesa Jenar itu melihat buruannya meloncat dengan tangkasnya, seolah-olah melampaui kemampuan manusia biasa, serta dalam waktu yang hanya sekejap itu telah dapat dengan tiba-tiba berdiri di luar kepungan mereka, hati mereka tergetar hebat. Segera mereka sadar bahwa itu pastilah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, kembali mereka berhenti beberapa langkah di sekeliling Mahesa Jenar, yang dengan tegapnya berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh kuat bagaikan tonggak baja.


Kesadaran mereka akan ketinggian ilmu orang asing itu, ternyata telah menuntun ingatan penduduk Pangrantunan kepada kekaguman-kekaguman mereka terhadap orang dari daerah mereka sendiri. Terutama pemimpin mereka yang mereka cintai dengan sepenuh hati, yang sejak beberapa tahun lalu telah menyisihkan diri. Yaitu Ki Ageng Sora Dipayana.


Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang dapat mengenal, bahwa orang yang mereka kenangkan itu, telah ada diantara mereka. Bahkan baru saja mengalami siksaan di hadapan mereka. Orang kedua yang mereka kagumi adalah Ki Ageng Gajah Sora, putra sulung Ki Ageng Sora Dipayana. Meskipun belum dapat memiliki seluruh ketinggian ilmu ayahnya, Ki Ageng Gajah Sora telah dapat digolongkan manusia yang memiliki kelebihan dibanding manusia biasa.


Orang ketiga sesudah itu adalah Ki Ageng Lembu Sora, adik Ki Ageng Gajah Sora. Orang inilah yang sekarang menerima kepercayaan dari ayahnya untuk menggantikan kedudukannya sebagai kepala daerah perdikan Pangrantunan bagian selatan. Tetapi tabiat seseorang ternyata tidak dapat ditentukan dari tetesan darah yang menurunkan. Ki Ageng Lembu Sora yang oleh ayahnya diharapkan akan dapat melanjutkan cita-citanya untuk mengembangkan daerahnya, ternyata yang terjadi adalah kebalikannya. Ia lebih mementingkan kesenangan sendiri.


Bahkan kadang-kadang ia sampai melupakan kedudukannya sebagai pengayom. Malahan tidak jarang ia berbuat hal yang dapat melukai hati rakyatnya. Hal-hal yang demikian itu menimbulkan banyak kegelisahan dan ketidakpuasan di kalangan rakyat, yang akhirnya menjadikan rakyat tidak peduli lagi kepada keadaan di sekelilingnya, kecuali kepentingan mereka sendiri-sendiri.


Dan sekarang tiba-tiba muncul seorang yang agaknya termasuk orang yang berilmu tinggi dan bertabiat aneh. Kalau orang ini memaksakan sesuatu peraturan yang bertentangan dengan kemauan gerombolan Sima Rodra, maka akan celakalah nasib penduduk setempat. Sebab mereka tentu tidak akan mampu melawan salah satu diantaranya.


Sementara itu ketika setiap otak dari mereka yang ada di halaman itu sedang dipenuhi dengan berbagai masalah dan persoalan-persoalan, terdengarlah Mahesa Jenar mulai berkata, "Saudara-saudara penduduk Pangrantunan. Setelah kita bermain-main sebentar, aku mendapat kesimpulan bahwa daerah ini bukanlah daerah yang seharusnya dapat menjadi lembu perahan bagi gerombolan Sima Rodra. Seberapakah sebenarnya kekuatan dari gerombolan itu dibandingkan dengan keperkasaan kalian? Kalau kalian merasa bahwa apa yang kalian sediakan untuk gerombolan Sima Rodra setiap bulannya bukanlah kekayaan yang berharga, memang mungkin sekali. Tetapi arti dari kesediaan saudara-saudara menyerahkan pajak kepada gerombolan itulah yang sebenarnya patut disesalkan. Sebab dengan demikian kalian telah menempatkan diri kalian sendiri di bawah kekuasaan Sima Rodra. Apalagi kalau kalian sampai pada perhitungan nilai dari barang-barang itu kalian kumpulkan, lalu kalian jual. Maka pastilah dalam waktu yang singkat kalian dapat mendirikan banjar-banjar desa, tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Tetapi lebih dari itu, kalian adalah rakyat yang merdeka, bukan rakyat yang diperbudak oleh Sima Rodra, yang patut mempergunakan segala sumber kekayaan kalian untuk kepentingan kalian sendiri. Nah saudara-saudara, pertahankan kemerdekaan ini. Kalau perlu dengan darah dan jiwa kalian."


Kata-kata Mahesa Jenar ini terasa seperti membakar dada mereka yang mendengarnya, disamping perasaan malu dan sesal yang menghantam bertubi-tubi.

Hampir semua orang tampak menundukkan mukanya, seolah-olah hendak langsung memandang kekecilan jiwa mereka masing-masing. Disamping itu, makin jelaslah dalam ingatan mereka, keperwiraan serta kejantanan yang pernah mereka alami semasa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.


Mahesa Jenar dapat merasakan, bahwa kata-katanya berhasil menusuk langsung kedalam sanubari pendengarnya. Karena itu sambungnya, Nah saudara, keputusan terakhir adalah di tangan saudara-saudara. Masihkah saudara ingin merdeka, ataukah saudara telah merasa berbahagia dalam penindasan dan pemerasan Sima Rodra? Kalau saudara memilih yang kedua maka aku bersedia untuk saudara-saudara tangkap serta saudara-saudara serahkan kepada Sima Rodra sebagai tumbal keselamatan penduduk.


Kalau kata-kata Mahesa Jenar yang terdahulu telah membakar dada rakyat Pangrantunan, maka kata-katanya yang terakhir itu bagaikan cermin yang langsung diletakkan di hadapan mereka. Sehingga semakin jelaslah noda-noda yang melekat dalam wajah kepribadian mereka.


Untuk mempertegas kata-katanya, Mahesa Jenar melanjutkan, "Saudara-saudara, kalau saudara-saudara sudah merasa bimbang maka sebaiknya saudara-saudara pulang saja sambil merenungkan pilihan manakah yang saudara-saudara anggap paling sesuai dengan sifat serta watak saudara-saudara. Sekarang saudara-saudara kami persilahkan meninggalkan halaman ini. Selama saudara merenungkan kemungkinan yang paling menguntungkan bagi saudara-saudara, aku ingin minta ijin untuk dua-tiga hari. Setelah itu, aku akan datang lagi untuk menerima keputusan kalian."


Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang terakhir, penduduk Pangrantunan itu saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Sampai kembali Mahesa Jenar berkata, "Aku harap kalian meninggalkan halaman ini untuk merenungkan apa yang akan saudara lakukan. Aku yakin bahwa saudara akan memilih keputusan yang benar demi tanah tercinta serta kebesaran nama daerah ini, yang telah diletakkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana."


Meskipun Mahesa Jenar mengucapkan kata-katanya dengan lunak serta sopan, tetapi tajamnya seperti sembilu yang langsung membelah jantung mereka, sehingga terasa suatu desiran yang pedih di dalam dada masing-masing.



Nagasasra sabuk inten 19

KETIKA seseorang yang bernama Sagotra datang kepada mertua Wirasaba dan mengabarkan bahwa Mahesa Jenar berada di daerah Pliridan, maka maksud Wirasaba untuk membuat perhitungan tak dapat dikekang lagi, meskipun kakinya baru saja sembuh dan belum pulih kembali seperti sediakala.

Tetapi tiba-tiba, ketika ia telah dapat bertemu dengan orang yang dicarinya itu, disaksikannya suatu peristiwa yang bermimpipun belum pernah diangankan. Hanya dengan telapak tangan saja, batu hitam sebesar itu dapat dihantam hancur.

Bagaimanakah jadinya kalau yang dikenai sisi telapak tangan itu kepalanya?

Menghadapi peristiwa itu, rontoklah sifat tinggi hatinya. Mendadak tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Wirasaba berdiri serta membungkuk hormat. Siapakah sebenarnya Tuan yang telah membingungkan perasaanku?

Sambil tersenyum, Mahesa Jenar menunduk hormat pula. Lalu jawabnya, Sebagaimana kau ketahui, aku adalah Mahesa Jenar.

Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah bahwa ia sama sekali tidak puas dengan jawaban itu. Sebab orang yang dapat berbuat demikian pastilah orang yang sudah punya nama.

Karena itu ia memberanikan diri untuk mendesak, Tuan, tetapi barangkali Tuan mempunyai sebuah gelar lain yang dapat memperkenalkan diri Tuan...?

Mahesa Jenar ragu-ragu sejenak. Adakah untungnya kalau disebutkannya gelar keprajuritannya? Tetapi kemudian ia berpikir, barangkali dengan demikian ia dapat mengurangi kepahitan yang baru saja dialami oleh Wirasaba.

Sebagai seorang yang tinggi hati, pastilah Wirasaba akan menderita batin untuk seterusnya kalau ia sampai dapat dikalahkan oleh orang yang tak bernama. Karena itu, jawabnya, Wirasaba..., ketahuilah bahwa sebenarnya akulah yang bernama Rangga Tohjaya.

Mendengar nama itu, membersitlah warna merah di wajah Wirasaba, serta jantungnya berdegup keras. Pantaslah kalau yang dapat berbuat sedemikian dahsyatnya itu adalah orang yang bergelar Rangga Tohjaya. Karena itu kembali ia membungkuk hormat.

Tuan Rangga Tohjaya yang perwira, maafkanlah segala kelancanganku. Karena Tuan telah berbuat kemurahan hati untuk membebaskan istriku. Maka berdosalah aku, yang telah berani menuduhkan hal yang sama sekali tidak wajar kepada Tuan. Karena itu aku serahkan diriku kepada Tuan untuk menerima hukuman apapun yang Tuan kehendaki, kata Wirasaba dengan suara yang berat penuh penyesalan.

Kembali Mahesa Jenar tersenyum.

Wirasaba... tidaklah ada hukuman yang pantas aku berikan kepadamu. Sebab wajarlah kalau seseorang dalam perjalanan hidupnya suatu kali mengalami keterlanjuran. Hanya pengalaman yang demikian itulah yang dapat menjadi peringatan. Bahwa untuk selanjutnya kita harus lebih hati-hati dalam tiap-tiap tindakan kita. Tetapi selain dari itu semua, tadi kau katakan bahwa kau mendapat suatu titipan dari seseorang. Apakah itu? kata Mahesa Jenar.

Wirasaba menjadi seperti tersadar. Lalu ia menjawab, Tuan, aku mendapat titipan dari mertuaku Ki Asem Gede. Sebuah bumbung kecil yang aku tidak tahu isinya.
Sesudah berkata demikian segera Wirasaba mengambil bumbung dari kantong ikat pinggangnya dan diserahkannya kepada Mahesa Jenar.

Segera bumbung itu pun diterima oleh Mahesa Jenar, serta ketika dilihat isinya, betul bahwa yang di dalamnya adalah biji bisa ular yang telah dipinjamkan kepada Ki Asem Gede.

Wirasaba... kata Mahesa Jenar kemudian, tidakkah Ki Asem Gede mengatakan kepadamu, apakah kasiat benda yang kau bawa ini?

Tidak Tuan, jawab Wirasaba sambil menggelengkan kepalanya.

Ketahuilah, benda ini adalah biji ular yang sangat keras, yang dapat dipergunakan sebagai obat pemusnah bisa atau racun yang lain. Bagi perjalanan hidup, benda ini sangat penting artinya, sebab dengan benda ini pula Ki Asem Gede telah berhasil menyembuhkan kelumpuhanmu, jelas Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar ini, Wirasaba kembali terkejut. Ditambah pula dengan perasaan haru yang mendalam. Ternyata atas pertolongan Rangga Tohjaya ini pula kelumpuhan kakinya itu disembuhkan. Mengingat hal itu semua, semakin dalamlah penyesalan yang dirasakannya.

Sementara itu Mahesa Jenar telah mengajukan pula beberapa pertanyaan mengenai Ki Asem Gede. Kademangan Pucangan serta Prambanan, dan banyak hal mengenai orang-orang yang pernah dikenalnya. Karena itu sebentar kemudian pembicaraan telah dapat berlangsung lancar.

Dari pembicaraan itu diketahui, ternyata sepeninggal Mahesa Jenar, Ki Dalang Mantingan pun segera kembali ke Prambanan. Dan menurut Wirasaba yang mendengar dari Ki Asem Gede, bahwa orang yang bernama Mantingan itu telah kembali ke Wanakerta.

Setelah pembicaraan mereka berlangsung beberapa lama, berkisar dari yang satu ke yang lain, maka berkatalah Mahesa Jenar, Nah, Wirasaba, marilah kita anggap bahwa apa yang pernah terjadi itu merupakan suatu mimpi yang tak menyenangkan. Dan sekarang ternyata kita telah bangun dan melupakan mimpi itu. Karena itu kembalilah kepada istrimu seperti pada masa kau datang untuk mengambilnya dahulu.

Baiklah Tuan..., aku akan kembali kepada keluargaku, serta mengatakan apa yang sudah aku lihat, jawab Wirasaba.

Sekarang, sambung Mahesa Jenar, Marilah kita beristirahat. Besok kita akan melakukan tugas kita masing-masing. Kau akan kembali kepada keluargamu, sedang aku masih dinanti oleh suatu tugas berat.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, Wirasaba termenung sejenak. Lalu katanya, Kalau Tuan masih harus melalukan tugas berat, dapatkah kiranya aku membantu?

Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya. Wirasaba..., bagaimanapun beratnya, tetapi aku tak dapat membagi pekerjaan itu dengan orang lain. Karena itu dengan menyesal aku tak dapat menerima tawaranmu.

Wirasaba menjadi terdiam. Tugas apakah yang sedang dihadapi Mahesa Jenar? Tetapi karena Mahesa Jenar sendiri telah menyatakan keberatan atas tawarannya, maka ia pun tidak berani lagi mendesak.



NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
092

SEJENAK kemudian Mahesa Jenar telah berdiri, sambil melangkah ia berkata, ”Selamat malam Wirasaba, beristirahatlah. Kalau kau mau, tidurlah di dalam goa bersama aku. Besok kita bisa menuai jagung. Dan sesudah itu kita berangkat dengan tujuan masing-masing.”

Segera Wirasaba pun berdiri, serta berjalan mengikuti Mahesa Jenar, masuk ke dalam goa, untuk bersama-sama beristirahat, sebelum esok paginya mereka masing-masing akan menempuh perjalanan yang cukup berat.

Bagi Mahesa Jenar, adalah sebaik-baiknya segera meninggalkan tempat itu. Sebab apabila Wadas Gunung beserta kawan-kawannya sampai dapat mencapai sarangnya, sebelum ia meninggalkan tempat itu, mungkin untuk selama-lamanya ia tidak akan lagi dapat pergi. Karena tidaklah mustahil kalau Pasingsingan sendiri akan melakukan pembalasan.

Ketika ayam hutan pada fajar pagi harinya mulai berkokok, Mahesa Jenar pun segera bangun. Wirasaba bangun pula. Sejenak kemudian ketika sudah mulai terang tanah, keduanya berkemas.

Tetapi sebelum mereka pergi, Mahesa Jenar bersama Wirasaba memerlukan memenuhi pesan Ki Ageng Pandan Alas untuk menuai jagung di belakang bukit kapur, serta menyimpannya di dalam goa. Mungkin pada suatu saat Ki Ageng Pandan Alas akan kembali lagi ke goa itu, atau salah satu dari mereka pada suatu kali akan mengunjungi tempat itu.

Ketika semuanya sudah selesai, maka yang pertama-tama siap untuk berangkat adalah Wirasaba. Atas permintaan Mahesa Jenar, Wirasaba membawa bekal beberapa ontong jagung.

Sesudah sekali lagi Wirasaba minta maaf serta menyatakan terima kasihnya, maka segera ia pun berangkat ke timur, kembali kepada keluarganya dengan perasaan yang seolah-olah baru sama sekali.

Sepeninggal Wirasaba, segera Mahesa Jenar pun ingat akan tugasnya. Maka tanpa disengaja, ia berdiri di atas sebuah gundukan tanah sambil memandang ke arah barat, ke arah hutan Mentaok yang pekat oleh pepohonan liar, dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Pohon-pohon raksasa serta pohon-pohon yang membelit.

Meskipun masih agak jauh, tetapi lamat-lamat hutan yang liar itu telah tampak sebagai suatu tabir yang di belakangnya tersembunyi banyak sekali rahasia dan bahaya.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak pernah takut untuk menghadapi bahaya yang bagaimanapun besar. Tetapi sebagai seorang prajurit, ia bisa memperhitungkan tindakan-tindakannya. Apa yang harus diusahakannya sekarang adalah membebaskan keris Nagasasra dan Sabuk Inten dari tangan Sima Rodra. Sebelum itu berhasil, harus dihindari kemungkinan-kemungkinan yang akan menggagalkan usahanya.

Bahaya yang paling besar yang dihadapinya, apabila ia menempuh hutan itu adalah kemungkinan bertemu dengan Pasingsingan. Sebab bila ia bertemu dengan orang itu, pastilah ia tidak akan dapat melepaskan diri. Bahkan tidak mungkin baginya untuk dapat bertahan menghadapi tokoh yang terkenal itu.

Karena itu timbul pikiran dalam diri Mahesa Jenar untuk menempuh jalan lain. Ia bisa pula mengambil jalan utara. Lewat hutan Turi di kaki Gunung Merapi. Lalu sesudah itu akan dilaluinya lapangan batu-batu yang luas. Konon daerah ini telah pernah dilanda banjir batu yang dimuntahkan dari Gunung Merapi, sehingga merupakan daerah yang sama sekali tak dapat ditumbuhi pepohonan. Karena itu daerah ini biasa disebut Ngentak-entak.

Dari sana akan sampailah perjalanan itu ke daerah hutan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu. Dan apabila ia mendaki sedikit lambung Gunung Merbabu itu, akan sampailah ia di daerah Parangrantunan. Dari sana ia harus turun dan berjalan ke barat agak ke selatan. Meskipun perjalanan melewati daerah ini pun harus menerobos rimba-rimba yang tak kalah dahsyatnya dari alas Mentaok, tetapi kemungkinan untuk bertemu dengan Pasingsingan adalah tipis sekali.

Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengambil jalan utara, meskipun daerahnya agak lebih sulit. Kecuali hutan-hutan yang cukup lebat, juga harus didaki tebing-tebing yang curam serta harus dituruni lembah-lembah yang terjal.

Setelah tetap hatinya, maka dengan berbekal beberapa ontong jagung , Mahesa Jenar segera berangkat. Tidak ke barat, tetapi ke utara, untuk menghindari kemungkinan rintangan-rintangan yang akan dapat menggagalkan usahanya.

Saat itu, matahari telah cukup tinggi. Sinarnya telah terasa hangat mengenai tubuh. Tetapi meskipun demikian, burung liar masih bersiul ramai, seolah-olah menyatakan ucapan selamat jalan kepada Mahesa Jenar yang sedang memulai kembali perjalanannya untuk menemukan pusaka yang lenyap dari perbendaharaan Kraton Demak.

Namun demikian pikirannya masih saja terganggu oleh kata-kata Samparan, bahwa yang sedang diperebutkan oleh golongan hitam itu adalah keturunannya saja dari keris Nagasasra dan Sabuk Inten, jadi bukan keris aslinya. Kalau demikian, bila Sima Rodra benar-benar menyimpan keris itu, adalah hanya keturunannya saja, ataukah aslinya seperti yang digambarkan oleh Ki Ageng Pandan Alas...?

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
093

DUA tokoh ternama ternyata mempunyai pendapat yang berbeda tentang Keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Pasingsingan menganggap bahwa yang ada di luar Kraton itu adalah keturunannya saja, sehingga ia menyuruh Lawa Ijo untuk mencari pusaka aslinya. Menilik hal tersebut ternyata Pasingsingan tidak mengetahui bahwa pusaka aslinya itu sedang lenyap dari perbendaharaan Kraton.

Demikianlah dengan beberapa pemikiran dan persoalan Mahesa Jenar berjalan dengan cepatnya, dengan satu harapan untuk dapat segera sampai ke tempat tujuannya. Menurut perhitungannya, apabila tidak ada suatu halangan, ia akan sampai ke tujuan kira-kira lima hari empat malam.

Tidak banyak hal-hal yang dialami Mahesa Jenar dalam perjalanannya, kecuali kesulitan-kesulitan melawan alam. Tetapi itu pun satu demi satu dapat diatasinya. Dan hal-hal yang demikian bagi Mahesa Jenar bukanlah merupakan rintangan dibandingkan dengan orang yang bernama Pasingsingan.

Apabila malam tiba, Mahesa Jenar selalu mencari tempat untuk tidur, di atas cabang-cabang pohon untuk menghindari gangguan-gangguan binatang buas. Sedang di siang hari, ia berjalan sejak matahari terbit sampai matahari terbenam.

Maka pada hari ketiga, Mahesa Jenar telah dapat meninggalkan daerah-daerah hutan di lereng Gunung Merbabu, untuk segera sampai ke Pangrantunan.

Tetapi demikian ia sampai ke daerah persawahan Pangrantunan, hatinya segera dikejutkan oleh sebuah panji-panji yang terpancang dengan megahnya, bergambar harimau hitam yang sedang mengaum hebat.

Harimau hitam itu digambar di atas dasar merah darah, pada kain yang dianyam dari serat kulit kayu yang dikemplong halus.

Melihat panji-panji itu segera Mahesa Jenar dapat menebak, bahwa panji-panji itu adalah tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Gerombolan Sima Rodra. Tetapi apakah kepentingannya, panji-panji itu dipasang di tempat ini? Itulah yang menjadi pertanyaan. Apalagi di daerah Pangrantunan.

Menurut keterangan gurunya, Pangrantunan pernah menjadi pusat percaturan para tokoh sakti. Sebab di daerah ini beberapa puluh tahun yang lalu pernah diadakan semacam pertemuan dari beberapa tokoh sakti yang saat ini pada umumnya sudah tidak pernah menampakkan diri lagi.

Diantara beberapa tokoh yang pernah mengadakan pertemuan itu adalah Almarhum Ujung Kulon, Pasingsingan, Titis Anganten serta Ki Ageng Pandan Alas. Adapun yang menjadi tuan rumah dalam pertemuan itu adalah Ki Ageng Sora Dipayana, yang pada saat itu menjadi kepala daerah Perdikan Pangrantunan.

Sekarang, di bekas daerah yang terkenal itu berkibar panji-panji sebuah gerombolan dari golongan hitam. Ini adalah suatu hal yang aneh. Tidak adakah seorangpun murid Ki Ageng Sora Dipayana yang dapat mempertahankan kebesaran namanya...? Ataukah memang Ki Ageng Sora Dipayana tidak mengambil seorang murid pun...? Atau barangkali gerombolan Sima Rodra ini sudah merasa demikian kuatnya sehingga berani meremehkan kebesaran Ki Ageng Sora Dipayana...?

Hal itu hanyalah mungkin apabila gerombolan Sima Rodra ini seperti juga gerombolan Lawa Ijo, yang didalangi oleh salah seorang dari tokoh-tokoh golongan hitam.

Tetapi kemungkinan ini adalah tipis sekali. Keberadaan Pasingsingan dalam kalangan hitam telah cukup mengejutkan, sehingga Ki Ageng Pandan Alas sendiri perlu membayanginya, untuk membuktikan kebenarannya. Apalagi tokoh-tokoh lain, yang tidak seaneh Pasingsingan, pastilah akan semakin menggemparkan.

Karena hal-hal yang mencurigakan itu, maka Mahesa Jenar harus berhati-hati untuk tidak mengalami hal-hal yang merugikan dirinya serta tugasnya. Dengan penuh kewaspadaan ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati desa yang berada di hadapannya, yang menurut ingatannya adalah desa Pangrantunan.

Dahulu, saat Mahesa Jenar belum lama berguru, pernah diajak gurunya bersama sama dengan Kebo Kenanga menjelajahi hampir seluruh pulau Jawa bagian tengah. Dan pada suatu kali ia pernah diajak pula mampir ke Pangrantunan. Sayang pada saat itu Ki Ageng Sora Dipayana sedang tidak di rumah, sehingga mereka tidak dapat bertemu. Meskipun demikian, oleh gurunya banyak yang diceriterakan tentang orang ini. Tentang keistimewaan-keistimewaannya, serta tentang budinya yang luhur.

Ketika Mahesa Jenar telah mendekati desa itu, maka kesan pertama-tama didapatnya adalah, daerah ini telah mengalami banyak kemunduran. Dinding-dinding desa sudah tidak serapi beberapa tahun yang lalu. Saluran-saluran air juga telah tidak teratur, bahkan banyak parit yang kering. Maka semakin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa sepeninggal Ki Ageng Sora Dipayana, tak ada orang lain, baik keturunannya maupun muridnya yang dapat melanjutkan memelihara kebesaran nama daerah ini.

Rupanya Ki Ageng Sora Dipayana setelah memutuskan menarik diri dari pergaulan, sudah tidak menaruh perhatian lagi kepada daerahnya.

Maka, ketika Mahesa Jenar melihat seorang petani tua sedang mencangkul tanah yang tampaknya keras dan tandus, ia memerlukan mendekatinya. Barangkali darinya dapat didengar ceritera tentang sebab-sebab kemunduran daerah ini, serta yang penting panji-panji yang dipancangkan oleh Sima Rodra itu.

Melihat orang asing mendatanginya, maka petani tua itu pun berhenti mencangkul, serta mengawasi Mahesa Jenar dengan saksama. Meskipun pandangan matanya tidak memancarkan kecurigaan, tetapi jelas mengandung pertanyaan-pertanyaan.

Setelah sampai di hadapan orang itu, segera Mahesa Jenar membungkuk hormat. Orang itu ternyata juga orang yang ramah dan sopan.

Karena itu sambil tertawa ia pun membungkuk hormat. Malahan sebelum Mahesa Jenar bertanya, ia sudah mendahuluinya.

“Selamat datang di daerah ini Anakmas, rupa-rupanya Anakmas memerlukan pertolonganku?”

Mendapat sambutan yang demikian ramahnya serta tak diduga-duga, Mahesa Jenar terperanjat. Maka cepat-cepat dijawabnya, “Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengganggu pekerjaan Bapak.”

“Tidak... tidak... sama sekali tidak. Apakah yang dapat aku kerjakan untuk Anakmas?” sahut orang itu.

“Aku ingin mendapat beberapa keterangan mengenai daerah ini,” jawab Mahesa Jenar.



NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
094

ORANG TUA itu mengangguk-angguk kecil. Cangkulnya lalu diletakkannya. Katanya kemudian, “Baiklah Anakmas, kalau saja aku mengetahui, pastilah aku akan menjawabnya. Banyakkah keterangan-keterangan yang Anakmas perlukan?”
“Tidak, Bapak... hanya sekedar sebagai petunjuk jalan,” jawab Mahesa Jenar.
“Keterangan mengenai apakah itu?” tanya orang tua itu.
“Bapak...” sambung Mahesa Jenar, “Apakah Bapak mengetahui mengenai panji-panji yang terpancang di tepi desa itu?”

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajahnya berubah. Tampaklah kecemasan membayang di wajahnya.

“Keterangan mengenai bendera itu agak panjang Anakmas. Kalau Anakmas sudi, marilah mampir ke pondokku sebentar. Barangkali aku dapat menyuguhkan sesuatu, walaupun hanya air kelapa sebagai penawar haus. Serta barangkali sedikit keterangan mengenai panji-panji merah itu.”

Mahesa Jenar sulit untuk menolak ajakan orang tua yang nampaknya sangat terbuka hatinya. Ditambah lagi dengan keinginannya mendengar keterangan-keterangan tentang panji-panji yang bergambar harimau itu. Karena itu tidak ada jalan lain kecuali dengan ucapan terima kasih ia menerima ajakannya.

Ternyata rumah orang tua itu tidaklah begitu jauh. Hanya berjarak beberapa tonggak saja dari sawahnya yang tampaknya tidak begitu subur. Rumahnya tidak lebih dari sebuah gubug yang sudah agak miring, meskipun tampaknya masih agak baru, serta beratapkan daun ilalang.

Dengan ramah pula dipersilahkan Mahesa Jenar masuk serta duduk di atas balai-balai bambu satu- satunya, di samping sebuah paga dan tlundhak tempat lampu.

“Duduklah Anakmas, aku ambilkan untuk Anakmas buah kelapa muda,” kata orang itu.

“Terima kasih, Bapak. Aku senang sekali mendapat sebuah kelapa muda. Tetapi biarlah aku sendiri memanjatnya. Apakah Bapak yang sudah setua ini masih dapat memanjat pohon kelapa?” jawab Mahesa Jenar.

Orang itu tersenyum, lalu jawabnya, “Meskipun aku sudah tua, tetapi karena tak ada orang lain di dalam rumah ini, jadi aku masih harus mengerjakan apa-apa sendiri. Juga memanjat kelapa. Malahan tidak saja mengambil buahnya, bahkan aku juga nderes beberapa pohon.”

“Bapak masih nderes juga? — tanya Mahesa Jenar keheranan.

Orang tua itu mengangguk. Dan karena itu Mahesa Jenar terpaksa percaya bahwa orang tua itu masih mampu memanjat pohon kelapa. Karena itu ia tidak lagi mencoba menghalangi orang itu memanjat pohon kelapa.

Sejenak kemudian orang itu sudah kembali masuk rumahnya, dengan membawa dua buah kelapa muda yang sudah diparas serta dilubangi, langsung disuguhkan kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar yang baru saja berjalan di bawah terik matahari, menerima kelapa muda itu dengan gembira serta berterima kasih, sehingga dengan sekali minum habislah isi dari sebuah kelapa muda.

Maka setelah Mahesa Jenar berisitirahat sejenak, mulailah ia menanyakan kembali tentang panji-panji merah bergambar harimau itu.

“Panji-panji itu adalah panji-panji dari sebuah gerombolan yang dikepalai oleh suami-istri yang menamakan dirinya Sima Rodra.” Orangtua itu mulai bercerita.

Desa-desa yang diberinya panji-panji semacam itu, adalah pertanda bahwa desa itu telah menjadi daerah yang setiap bulan harus menyediakan pajak bahan makanan untuk gerombolan itu. Demikian juga daerah ini, yang baru menjadi daerah perbekalan Sima Rodra sejak dua bulan yang lalu. Setiap bulan, mereka datang untuk memasuki setiap rumah yang ada.

Mahesa Jenar mendengarkan cerita orang tua itu dengan penuh keheranan. Sampai sekian jauh tindakan Sima Rodra di daerah itu tanpa mendapat gangguan apapun.

“Bapak... apakah Sima Rodra menentukan apakah yang harus diserahkan oleh masing-masing kepadanya?” Mahesa Jenar akhirnya bertanya kepada orangtua itu.

“Tidak. Mereka tidak menentukan bahan apa yang harus diserahkan, tetapi asal saja mereka menyediakan. Mungkin beras, kelapa, jagung dan sebagainya,” jawab orang itu.

“Jadi, tidakkah penduduk di daerah ini mendapat perlindungan dari siapapun?” tanya Mahesa Jenar selanjutnya.

Orang tua itu menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya yang sudah berkerut-kerut karena garis-garis umur itu, tampak semakin berkerut.

“Anakmas, benar apa yang Anakmas katakan,” jawab orang itu. Memang, penduduk di daerah ini seolah-olah tidak mendapat suatu perlindungan dari siapapun. Sebab daerah ini adalah daerah perdikan, yang sebenarnya segala sesuatu, seluk-beluk pemerintahan dan keamanan serta kesejahteraan rakyatnya telah bulat-bulat diserahkan kepada daerah ini sendiri. Tetapi pimpinan daerah perdikan yang sekarang ini rupanya tidak begitu menghiraukan keadaan rakyatnya.

“Bukankah daerah ini mula-mula dipimpin oleh seorang sakti serta bijaksana yang bernama Ki Ageng Sora Dipayana?” sela Mahesa Jenar.

“Ya,” jawab orang tua itu.

“Tetapi Ki Ageng itu telah lama mengundurkan diri dari pemerintahan. Daerah Pangrantunan ini sepeninggalnya dibagi menjadi dua bagian, dan masing-masing diserahkan kepada dua orang putranya. Maksudnya jelas, supaya tidak ada rebutan diantara mereka. Tetapi akibatnya adalah seperti sekarang ini. Daerah Utara yang dipimpin oleh Ki Ageng Gajah Sora, yang berkedudukan di Banyu Biru mengalami kemajuan yang pesat. Tetapi daerah ini, yang dipimpin oleh adiknya, Ki Ageng Lembu Sora, dan berkedudukan di Pamingit, mengalami kemunduran dalam hal kesejahteraan rakyatnya. Pangrantunan, yang pernah menjadi pusat pemerintahan, sekarang tidak lebih dari sebuah desa kecil yang terpencil dilambung Gunung Merbabu ini,” jelas orangtua itu, melanjutkan ceritanya.

Tampaklah wajah orang tua itu semakin bersedih. Rupanya ia sedang mengenang masa jaya dari desanya ini. “Bapak... apakah Bapak mengalami masa-masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
095

ORANG itu tampak ragu-ragu sebentar. Lalu akhirnya ia menggelengkan kepalanya. “Aku di sini adalah orang baru. Tetapi sebelum aku tinggal di tempat ini aku sudah banyak mendengar ceritera tentang Ki Ageng Sora Dipayana,” katanya.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi jelaslah bahwa rabaannya mengenai kemunduran daerah ini adalah benar. Tetapi disamping itu ia mempunyai kesan yang aneh terhadap orang tua itu. Menilik caranya bicara, pastilah ia bukan orang biasa seperti yang tampak pada tata lahirnya, yang tidak lebih dari seorang petani miskin.

“Anakmas...” orangtua itu melanjutkan, “pada hari ini, kebetulan adalah hari pungutan pajak. Karena itu, tak seorang pun yang meninggalkan rumahnya. Mereka menanti dengan setia, kedatangan para pemungut pajak. Dan karena itu pulalah maka tadi tak seorang pun yang Anakmas jumpai di sawah, kecuali aku.”

“Kenapa Bapak tidak berbuat seperti orang lain?” desak Mahesa Jenar. Orang itu menggelengkan kepala. “Aku tak mau,” jawabnya.

Belum lagi mereka habis bercakap-cakap, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor kuda. Orang tua itu tampak agak terkejut.

“Anakmas, itulah mereka datang. Pergilah ke belakang rumah ini supaya Anakmas tidak terlibat,” kata orang itu.

Mahesa Jenar ingin membantah, sebab ia sama sekali tidak dapat membenarkan kezaliman yang demikian itu berlangsung terus. Tetapi sebelum ia sempat berkata, dengan penuh wibawa orang itu mendesaknya. Entahlah pengaruh apa yang menusuk perasaan Mahesa Jenar, sehingga ia tidak dapat membantah lagi.

Sebentar kemudian benarlah apa yang dikatakan. Beberapa orang yang dipimpin oleh seorang yang bertubuh tegap tinggi serta berambut hampir di seluruh mukanya, datang dan langsung memasuki rumah orang tua itu. Tanpa berkata apa-apa orang tua itu dengan ganasnya diseret keluar dan dipukuli dengan cemeti semau-maunya.

“Panggil seluruh penduduk desa ini...!” teriaknya kemudian.

“Suruhlah mereka menyaksikan contoh bagi mereka yang mau sengaja menghindari kedatangan kami.”

Sesaat kemudian anak buahnya telah berhasil memaksa penduduk desa itu berkumpul serta menyaksikan pertunjukan yang mengerikan. Semua penduduk tidak terkecuali, tua-muda, laki-laki dan perempuan, dengan wajah yang ketakutan terpaksa berkumpul di halaman rumah petani tua itu.

Beberapa orang perempuan menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, sedang beberapa orang laki-laki hanya bergumam, “Kasihan orang tua itu, kenapa ia tidak memenuhi permintaan orang-orang itu saja? Bukankah dua-tiga butir kelapa telah dapat membebaskannya dari derita yang sedemikian?”

Sementara itu orang yang tinggi besar itu berhenti memukul. Lalu dengan lantangnya ia berkata, “Lihatlah, para penduduk daerah Pengrantunan. Inilah sebuah contoh dari seorang yang dengan sengaja membantah peraturan kami. Pada waktu kami datang untuk pertama kalinya pagi tadi, ia telah menghindarkan diri dengan meninggalkan rumahnya. Untunglah bahwa ketika kami datang untuk kedua kalinya ia sudah ada di dalam rumahnya, sehingga aku dapat memaafkannya untuk tidak membakar habis rumahnya serta merampas semua miliknya. Tetapi meskipun demikian kami anggap perlu untuk sedikit memberi pelajaran kepadanya.”

Selesai mengucapkan kata-kata itu, kembali cemetinya terayun-ayun di udara serta dengan derasnya memukul-mukul orang tua itu. Segera beberapa jalur garis-garis merah darah membekas di punggung yang sudah berkerut-kerut serta hampir tak berdaging itu.

Kembali beberapa orang memejamkan matanya. Apalagi ketika orang tinggi besar itu semakin keras memukul, terdengarlah jeritan-jeritan tertahan keluar dari mulut orang tua yang disiksa dengan ganasnya itu.

Tetapi meskipun demikian, meskipun ada kesan-kesan kesetia kawanan diantara penduduk, ternyata sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Beberapa ratus orang laki-laki yang tampaknya juga tegap-tegap dan kuat, tak dapat berbuat apa-apa melihat salah seorang warga desanya disiksa di hadapan matanya oleh tidak lebih dari 10 orang.

Ini adalah suatu hal yang aneh. Hanya dalam waktu berapa tahun saja, desa ini tidak hanya mengalami kemunduran kemakmuran serta pemerintahan tetapi juga mengalami kemunduran jiwa yang sangat mengejutkan. Suatu daerah dimana seorang sakti yang bernama Sora Dipayana tinggal dan memerintah, kini mengalami suatu penghinaan yang sedemikian besarnya tanpa perlawanan sedikit pun.

Mahesa Jenar yang kemudian menggabungkan diri dengan para penduduk setempat menyaksikan semua itu dengan darah yang bergolak. Ia tidak bisa membiarkan kelaliman-kelaliman serta kemaksiatan semacam itu berlangsung. Tetapi meskipun demikian ia mempertimbangkan juga beberapa kemungkinan. Sayang bahwa saat itu ia masih belum bisa menjajaki kekuatan Sima Rodra yang sebenarnya. Ia juga mempunyai dugaan bahwa apabila terjadi sesuatu dengan orang-orangnya di suatu daerah pasti Sima Rodra tidak akan tinggal diam. Mungkin daerah itu akan digilasnya habis, serta dijadikan lautan api. Karena itu Mahesa Jenar jadi bimbang